(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Artikel & Tulisan

Surat Terbuka untuk yang saya Kasihi: Bapak Muhammad Jusuf Kalla Di Indonesia

14 Apr 2026 21:15 👁 111 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Surat Terbuka untuk yang saya Kasihi: Bapak Muhammad Jusuf Kalla Di Indonesia

Surat Terbuka untuk yang saya Kasihi:
Bapak Muhammad Jusuf Kalla
Di Indonesia

Dari:
Pdt Banner Siburian, MTh
Medan, 14 April 2026

PEMBUNUHAN JALAN MATI SYAHID ?

Salam damai sejahtera di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Semoga bapak Jusuf Kalla ada dalam keadaan sehat walafiat dalam perlindungan Tuhan yang maha kuasa. Amin !

Di bulan April 2026 ini, bapak Jusuf Kalla sangat viral di Media Sosial terutama lewat pernyataan ceramah bapak di Masjid Kampus UGM, 5 Maret 2026 lalu, yang mengatakan:

“Kenapa agama gampang menjadi-jadikan alasan konflik kaya di Poso dan Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat bahwa mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan, itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu: Kalau saya bunuh orang Islam saya syahid. Kalau saya matipun, saya syahid”

Bapak Jusuf Kalla yang saya hormati. Mengingat di era teknologi ini bisa terjadi rekayasa Artificial Inteligence, maka sekiranya pernyataan itu tidak ada, tentu bapak patut mengklarifikasinya guna meredakan keresahan publik yang telah mencederai kerukunan umat beragama. Kerukunan adalah fundasi yang kokoh untuk kemajuan bangsa kita.

Namun bila pernyataan itu benar, maka bapak harus mengklarifikasinya juga dan mengakuinya sebagai sebuah kekeliruan yang sudah terlanjur. Klarifikasi ini tentu saja menjadi cermin keteladanan dan kebesaran hati bapak sebagai seorang tokoh.

Bila pernyataan itu benar, maka saya menyampaikan beberapa hal penting untuk bapak yang saya kasihi dan hormati, sebagai berikut:

Pertama: Mengasihi dan Mengampuni adalah inti pengajaran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan kami untuk mengasihi sesama manusia, bukan untuk membenci apalagi untuk membunuh. Yesus melarang penggunaan kekerasan untuk membela diri apalagi untuk menyebarkan kebencian berbasis agama, tetapi mengasihi musuh dan mendoakan mereka (Matius 5:44).

Saat Yesus dikhianati dan ditangkap oleh rombongan pembawa pedang dan pentung, kala itu Petrus mencoba membela Yesus dengan menghunuskan pedangnya. Namun Yesus berkata: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Matius 26:47-52).

Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu (Lukas 6:27-29). Barangsiapa berbuat jahat kepadamu dan menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:39).

Bagi kami, itulah implementasi dari mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan segenap kekuatan (Ulangan 6:5), atau dengan segenap akal budi (Matius 22:37; Markus 12:30). Itu tertuang dalam kasih kepada sesama manusia, siapapun dia, apapun agamanya dan bagaimanapun segala latarbelakang kehidupannya (Lukas 10:27).

Yesus datang sebagai teladan yang mengorbankan diriNya demi keselamatan umat manusia; bukan dengan mengorbankan nyawa orang lain (Markus 10:45; Yohanes 10:11, 15; 1 Yohanes 3:16). Yesus mengajar kami untuk menghadapi segala kebencian bukan dengan pedang, tetapi menderita memikul salib; bukan membuat orang lain menderita demi kebenaran subjektif yang dipegangnya.

Kedua: Pernyataan yang mengaitkan ajaran Kristen dengan tindakan membunuh guna mencapai status “mati syahid” adalah salah, keliru dan sesat. Narasi dan tindakan membunuh penganut agama lain guna meraih status “mati syahid” dalam ajaran Kristen adalah sesat. Tuhan justru dimuliakan lewat kasih, damai dan pengampunan ke semua orang, termasuk mereka yang berbeda keyakinan dengan kami.

Lewat pernyataan itu, telah terbangun sebuah persepsi bahwa agama Kristen juga mengajarkan pembunuhan kepada orang Islam dan merupakan “mati syahid” yang kami tempuh. Ajaran atau dogma seperti itu tidak pernah ada dalam Injil, dalam dogma, bahkan dalam tradisi gereja sekalipun.

Sebagai seorang pendeta, saya memastikan bahwa dalam Injil yang saya imani, tidak pernah ada istilah, frasa maupun ajaran (dogma) tentang Mati Syahid lewat pembunuhan ataupun kekerasan lainnya. Pendapat maupun pemikiran seperti itu sesungguhnya tidak pernah ada bagi kami, walau mungkin telah menjadi pendapat dan pikiran bapak sendiri.

Dalam iman Kristen, “mati martir” sangat jauh berbeda dengan “Syahid” dalam agama lain. “Martir” bukan untuk membunuh, tetapi korban sebagai akibat kesetiaan iman kepada Yesus. Seorang martir lebih memilih mati daripada dia menyangkal imannya. Tidak pernah ada bagi kami digelari martir oleh karena menyerang apalagi membunuh orang lain guna memperjuangkan agamanya.

Ketiga: Ajaran Kristen memerintahkan kami merawat kesucian iman lewat perintah Allah: “Jangan Membunuh” (Keluaran 20:13). Membunuh dengan dalil agama adalah dosa berat dan perlawanan kepada perintah Ilahi (Matius 5:21). Manusia adalah ciptaan Istimewa yang segambar dengan Dia (Imago Dei). Tindakan membunuh, telah mendehumanisasi seseorang itu bukan lagi segambar dengan Tuhan.

Jalan kami ke sorga adalah Yesus sebagai Jalan, Kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Para pembunuh itu tempatnya adalah neraka. Jalan ke sorga bagi kami bukan Syahid, melainkan menghidupi kasih kepada sesama manusia, termasuk yang berbeda keyakinan, juga dengan mengampuni bahkan mendoakan musuh (Matius 5:44).

Bagi kami, tindakan pembunuhan tidak pernah menjadi jalan untuk masuk sorga. Dalam berbagai larangan beribadah maupun dalam membangun gereja selama ini, kami tidak pernah menempuh mati syahid guna mempertahankannya. Bagi kami, teologi keselamatan tidak pernah diperoleh dengan jalan kekerasan, tetapi sebaliknya justru membalas kekerasan dengan kebaikan (Roma 12:17-21).

Keempat: Kami menjungjung tinggi nilai-nilai Pancasila dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, membunuh adalah tindakan kriminal yang amat kejam, dan tidak pernah dapat ditolerir.

Bila pernyataan kontroversial berbahaya itu benar, maka sungguh tak terterima akal sehat saya, bila bapak menjadi seorang pemantik perpecahan dan konflik antar umat beragama di tengah tantangan pluralitas berbangsa dan bernegara. Hal itu telah menjadi fitnah terhadap kami terutama terhadap Kitab Suci kami. Selain menjadi ujaran kebencian, hal itu masuk ranah penistaan agama, yang pasti memicu polemik dan kekacauan di tengah masyarakat kita.

Komunikasi publik, apalagi itu diungkapkan dalam ruang lingkup akademis, tentu potensial merusak sumber daya manusia Indonesia ke depan. Setiap pernyatan yang diungkap di ruang publik, apalagi dalam ruang akademis, sejatinya harus menjadi inspirasi, motivasi dan kekuatan yang mempersatukan segenap komponen bangsa kita.

Kami tentu akan senantiasa mengkritisi bahkan tokoh bangsa sekalipun, yang bisa saja sesewaktu berubah pragmatis oleh kepentingan politik, dengan membungkus dan memantik isu-isu sensitif guna mengalihkan perhatian demi missi yang tersembunyi, terutama di tengah konstelasi politik dan kondisi geopolitik Internasional yang tengah meresahkan kita semua.

Demikian surat terbuka ini saya tulis kepada bapak Jusuf Kalla yang saya kasihi dan hormati. Tuhan memberkatimu, memberkati kita semua komponen bangsa Indonesia agar senantiasa komit merawat hidup yang rukun, damai dan harmonis. Terimakasih !

Pdt. Banner Siburian

Penulis

Pdt. Banner Siburian

Artikel Lainnya