Minggu, 16 Agustus 2026 - TAATILAH HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Daily Bread
Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu mereka semuanya: "Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Jangan kamu berduka dan menangis!", karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu
(Nehemia 8: 9, Nehemia 8: 10 Alkitab TB LAI)
Saudara yang terkasih di dalam Nama Tuhan kita Yesus Kristus, salam dan doa kami dari HKBP Medan Sudirman, semoga hidup kita dinaungi oleh kasih Tuhan. Setiap manusia pasti pernah mengalami masa sulit. Ada masa saat kita kuat, tetapi ada juga masa saat kita tersenyum, tetapi ada saat kita harus menangis. Masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan, pelayanan, kesehatan dan berbagai pergumulan hidup dapat membuat hati kita kehilangan sukacita.
Yerusalem telah mengalami kehancuran. Tembok kota roboh dan pintu-pintu gerbangnya terbakar. Bangsa Israel juga telah mengalami pembuangan. Namun Tuhan membangkitkan Nehemia untuk memimpin pembangunan kembali tembok Yerusalem dan akhirnya selesai dibangun. Tetapi Tuhan tidak hanya ingin membangun tembok kota, Tuhan juga ingin membangun kehidupan rohani umatNya. Karena itu bangsa Israel berkumpul dan mendengarkan firman Tuhan. Ketika Esra membacakannya bangsa Israel menangis, karena firman Tuhan membuat mereka menyadari keadaan hidup mereka.
Nehemia tidak membiarkan mereka terus-menerus berada dalam kesedihan. Nehemia berkata "Jangan kamu bersedih" artinya kesadaran akan dosa harus membawa kita kepada pertobatan dan pemulihan bukan kepada keputusasaan. Datanglah kepada Tuhan, mintalah Tuhan menolong kita untuk bangkit berdiri. Jangan biarkan kegagalan masa lalu menentukan masa depan kita bersama Tuhan. Sumber sukacita kita bukanlah keadaan, kekayaan, jabatan, keberhasilan, tetapi Tuhan sendiri. Ketika suka cita kita berasal dari Tuhan, maka sekalipun keadaan berubah, kita masih memiliki alasan untuk tetap berharap. Tetapi kalau sukacita kita tergantung keadaan, maka ketika keadaan berubah, sukacita kita juga hilang. Untuk itu berpeganglah kepada Tuhan sebagai sumber sukacita kita. Amin (Gr. TS)
Penulis
Gr. Tumpal Sitanggang
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Pdt. Santy Elfrida Sitompul, S.Th
Pdt. Jarnata Sirait, S.Th