Parmingguon Minggu Jubilate HKBP Medan Sudirman | Minggu, 26 April 2026 Pukul 10.00 WIB
Administrator
Daily Bread
"Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan hati manusia, melainkan untuk menyukakan hati Allah yang menguji hati kami." (1 Tesalonika 2:4)
Saudara ku yang terkasih dalam Yesus Kristus! Paulus menggunakan kata yang sangat kuat: "mempercayakan Injil kepada kami." Bukan diserahkan sebagai tugas, bukan ditugaskan sebagai kewajiban, melainkan dipercayakan. Ada unsur kehormatan, kepercayaan, dan tanggung jawab yang sangat dalam di balik kata itu. Seseorang hanya mempercayakan sesuatu yang sangat berharga kepada orang yang ia percaya. Ini adalah cara Tuhan memandang setiap orang yang Ia panggil untuk melayani-Nya: sebagai orang yang dipercaya. Bukan karena kita layak secara diri sendiri, tetapi karena anugerah-Nya yang menjadikan kita layak. Dan di sanalah seharusnya motivasi pelayanan kita bersumber, bukan dari kebutuhan akan pengakuan manusia, tetapi dari rasa syukur atas kepercayaan yang Tuhan berikan.
Paulus menyebutkan godaan terbesar dalam pelayanan: "menyukakan hati manusia." Ini bukan godaan yang kasar dan mudah dikenali. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus ingin disetujui, takut dikritik, mengubah isi pesan supaya lebih mudah diterima, menghindari kebenaran yang menyakitkan demi menjaga hubungan baik. Kita semua, dalam derajat yang berbeda, rentan terhadap godaan ini. Guru yang tidak berani menegur karena takut tidak disukai murid. Pemimpin yang menghindari keputusan sulit demi popularitas. Pengkhotbah yang memilih pesan yang menyenangkan daripada pesan yang mengubah. Semuanya adalah bentuk-bentuk dari "menyukakan hati manusia" yang tersamar dalam jubah pelayanan.
"Allah yang menguji hati ..." tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya. Jika kita sungguh-sungguh melayani untuk menyenangkan Dia, maka penilaian manusia tidak lagi menentukan nilai kita. Dan jika pelayanan kita ternyata dicemari oleh keinginan untuk dipuji manusia, Ia tahu itu juga, dan Ia mengundang kita untuk bertobat dan kembali kepada kemurnian. Karena itu mari melayani Tuhan dengan kemurnian bukan untuk menyenangkan manusia. Amin (JRT)
Penulis
Pdt. Jusuf Roy Turnip, S.Th
Administrator
Administrator
Pdt. Banner Siburian, M.Th