Tata Ibadah dan Warta Jemaat, Minggu 8 November 2026
Administrator
Renungan & Khotbah
MELAKUKAN KEADILAN DAN KEBENARAN
(Yehezkiel 18:21-29)
Saudaraku yang terkasih. Selamat hari Minggu bagi kita semua. Salam sejahtera dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kita !
Ini kisah tentang Budi. Dia bekerja di sebuah toko kelontong. Ayahnya dulu dikenal sebagai pencuri di kampung. Sang ayah sudah lama tiada, tetapi nama buruknya tetap tinggal berbekas.
Sejak hari pertama bekerja, pemilik toko senantiasa mengawasi Budi dari balik rak. Uang kembalian dari pelanggan dihitung ulang, tasnya pun diperiksa. Padahal Budi jujur. Buktinya, ia pernah mengembalikan dompet pelanggan yang tertinggal di toko kelontong itu. Namun tak dapat disangkal, tatapan curiga itu tidak pernah pergi. “Anak pencuri, pasti sama saja,” bisik orang-orang kepada yang lain.
Budi pun lelah juga dan bertanya dalam hati: untuk apa jujur kalau tokh tetap dicap pencuri?
Mungkin kita juga pernah merasakannya: dihukum oleh masa lalu yang bukan oleh karena sikap, pilihan dan tindakan kita.
Saudaraku yang kekasih !Perasaan yang kurang lebih serupa telah menghantui bangsa Israel di pembuangan Babilonia, tempat nabi Yehezkiel melayani dan bernubuat kala itu. Mereka kehilangan tanah, Bait Allah, dan kemerdekaan. Mereka menyimpulkan bahwa semua itu adalah akibat dosa para leluhur, sementara mereka hanya kena batunya dan menanggung getahnya.
Pandangan itu nampaknya telah melahirkan sikap pasrah: buat apa bertobat? Bahkan mereka menuding bahwa jalan Tuhan sungguh tidak adil.
Melalui kitab pasal 18 ini, Tuhan membongkar semua anggapan itu. Setiap orang sesungguhnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Orang fasik yang berbalik dari dosanya dan selanjutnya hidup dalam keadilan dan kebenaran sesungguhnya dia akan hidup, dan pelanggaran lamanya pun tidak lagi diingat-ingat.
Sebaliknya, orang benar yang meninggalkan kebenaran tidak bisa bersandar pada kebaikannya di masa lalu. Perhatikan isi hati Tuhan: Ia tidak bersukacita atas kematian orang fasik, melainkan berkenan melihatnya bertobat dan hidup.
Saudaraku yang kekasih dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kita !
Ada tiga pesan penting dari perikop firman Tuhan ini kepada kita semua.
Pertama: masa lalu tidak menentukan masa depan kita di hadapan Allah; namun pintu pertobatan akan selalu terbuka bagi kita.
Kedua: kebenaran bukanlah tabungan, melainkan perjalananbhidup yang harus dijalani setiap hari, sehingga orang yang pernah setia pun perlu waspada.
Ketiga: Allah itu adil, dan keadilan-Nya tampak ketika Ia menilai kita menurut jalan hidup, bukan menurut nama keluarga.
Semangat ini sejalan dengan nasihat Paulus kepada Timotius: jauhi keinginan orang muda, kejarlah keadilan, iman, kasih, dan damai, serta tegurlah dengan lemah lembut, sebab Allah sanggup memberi kesempatan bertobat dan melepaskan orang dari jerat Iblis. Melakukan keadilan berarti memberi ruang bagi orang untuk berubah.
Saudaraku yang terkasih ! Hari ini kita bisa berada di posisi Budi yang terluka, atau di posisi pemilik toko yang penuh curiga. Jika kita mungkin telah menjadi korban stigma, ingatlah bahwa Allah menilai kita dari jalan yang kita pilih sekarang ini, bukan dari dosa orangtua kita dahulu. Jika kita pernah sebelumnya jatuh, janganlah menyerah, sebab Tuhan sedang menantikan kita pulang.
Dan jika kita yang memegang penilaian atas orang lain, belajarlah memandang seperti Allah memandang: dengan harapan, bukan dengan prasangka.
Maka, marilah melakukan keadilan dan kebenaran sesuai dengan kehendak Tuhan; bukan pula sekadar dengan aturan yang benar, tetapi dengan hati yang mau memulihkan.
Selamat menghidupi keadilan dan kebenaran Allah. Selamat beribadah dan selamat hari Minggu. Tuhan memberkati. Amin !
Penulis
CPdt. Carel HA Siburian, MTh
Administrator
Administrator
Pdt. Jarnata Sirait, S.Th