(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 20 September 2026 - SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN !

19 Sep 2026 23:05 šŸ‘ 348 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 20 September 2026 - SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN !

Renungan Minggu, 20 September 2026:
SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN !
(Filipi 4:10-19)

Saudaraku yang kekasih ! Selamat minggu bagi kita semua. Semoga minggu ini menjadi sukacita yang membahagiakan bagi kita.

Surat Filipi adalah surat sukacita. Ajaibnya, surat sukacita ini justru ditulis oleh Paulus dari penjara. Padahal, orang yang berada di penjara biasanya suka mengutarakan penderitaannya saja. Tetapi Paulus tidak. Dari balik jeruji besi, dia malah meyampaikan Kabar Baik kepada jemaat Filipi.

Saudaraku ! Perikope Filipi 4:10-19 merupakan sepenggal surat terima kasih dari Rasul Paulus. Yang menakjubkan, justru dari balik jeruji besi itulah lahir Surat Sukacita ini. Jemaat pertama Paulus di tanah Eropa ini, baru saja mengirim bantuan lewat Epaphroditus guna menopang pelayanannya. Paulus menulis bukan karena kekurangan, melainkan untuk berbagi rahasia hidupnya: ia sudah belajar cukup dalam keadaan apa pun (ay 11-12; bnd. 1 Kor 9: 4, 7,11).

"Belajar cukupā€ (Yun. ā€œautarkeiaā€), bukanlah bakat bawaan, tetapi proses yang dibentuk lewat kelimpahan maupun kekurangan, kenyang maupun lapar. Puncaknya ada di ayat 13: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Ayat ini bukan jaminan sukses meraih apa saja, tetapi soal bertahan dalam kekurangan tanpa kehilangan damai.

Beda dengan Yunus. Setelah Niniwe menerima belas kasihan dari Allah, Yunus malah "ngambek" duduk di bawah terik matahari. Ketika Tuhan menumbuhkan pohon jarak sebagai peneduh, ia senang bukan main. Namun begitu pohon itu layu esoknya, ia marah sampai ingin mati saja (Yunus 4:6-8). Sukacita Yunus bergantung penuh pada kenyamanan sesaat: ada pohon, senang; pohon layu, dia ngambek. Paulus sebaliknya. Sukacitanya bukan berakar pada isi dompet atau kondisi penjara, tapi kepada Tuhan yang menopangnya.

Hal ini mengingatkan kita pada meja makan keluarga di kampung. Kadang lauknya ayam pinadar, saksang, kadang juga hanya ikan asin dan sambal. Namun yang membuat meja itu istimewa bukanlah lauknya, melainkan momen orangtua dan anak-anak duduk berkumpul, saling bercerita sambil makan bersama. Di situlah Tuhan hadir, bukan di piring yang penuh. Kebersamaan dengan Tuhan dan sesama jauh lebih berharga dibandingkan dengan isi isi meja.

Jemaat yang terkasih ! Sedikitnya ada tiga berkat rohani untuk kita hidupi dalam keseharian hidup kita.

Pertama: Rasa cukup itu dipelajari, bukan dihadiahkan; latihlah hati untuk bersyukur di segala musim. ā€œMencukupkan diri dalam segala keadaanā€, tentu bukan sebuah barang jadi. Tetapi dia belajar, membiasakan diri untuk berkata cukup, kemudian menjadi sebuah karakter dalam keseharian hidup. Itu bukan berarti kita tidak lagi butuh uang misalnya. Segala sesuatu memang membutuhkan uang; namun bukan berarti uang adalah segala-galanya. Uang bukanlah pusat atau tujuan hidup kita, tetapi sebuah sarana untuk menopang hidup keseharian kita (4:17).

Banyak orang yang tidak sanggup berkata ā€œcukupā€ dalam hidupnya. Adam dan Eva jatuh ke dalam dosa, karena mereka tidak mencukupkan diri dengan yang ada. Tuhan telah menempatkan mereka di taman Eden, taman kebahagiaan. Namun karena godaan iblis, mereka tidak merasa puas hidup tenang di taman itu. Ada perasaan yang kurang, yakni ingin sama dengan Allah.

Kala Israel diperbudak di Misir, mereka berteriak kepada Tuhan memohon dilepaskan (Kel 2:23-24). Setelah Tuhan melepaskan mereka, lalu melewati gurun pasir selama 40 tahun, mereka bersungut-sungut dan hendak kembali ke Mesir (Kel 16:3; Bil 11:4-5). Hidup kita juga begitu. Nga dapot na pinarsinta, tong ndang sombu panghilalaan. Nunga denggan, sai lalap hurang denggan.

Kedua: ukurlah sukacita bukan dari pohon jarak yang bisa layu kapan saja, melainkan dari kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah; bukan dari kesejukan atau kenyamanan hidup yang sifatnya temporer, tetapi dari kasih setia Allah yang kekal untuk selamanya.

Secara manusiawi, sebetulnya banyak hal yang bisa membuat Paulus kecewa kepada Tuhan. Saat menulis surat ini, hidupnya malah terpenjara, oleh karena kesetiaannya memberitakan firman Tuhan. Dia tidak dapat bekerja. Hidupnya tergantung kepada bantuan para sahabatnya (Kis 24:23; 2 Tim. 1:16-17; 4:11,13; Fil. 4:18). Namun demikian, nasehat dan pujianlah yang keluar dari mulutnya sekaligus kesaksian bahwa dia dapat belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Ketiga: Allah berkuasa memenuhi segala keperluan hidup kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya (ayat 19). Jadi, apakah dalam hidup ini kita penuh atau berkekurangan, mari kita berseru bersama Paulus: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadaku."

Selamat Minggu. Tuhan Yesus memberkatimu, memberkati saya dan memberkati kita semua. Perkara apapun yang kita alami sekarang, kita pasti dapat menanggungnya di dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepada kita. Amin !

CPdt. Carel HA Siburian, MTh

Penulis

CPdt. Carel HA Siburian, MTh

Artikel Lainnya