(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 14 Juni 2026 - DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN

13 Jun 2026 21:18 👁 16 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 14 Juni 2026 - DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN

DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN
(Galatia 2:15-21)

Selamat minggu bagi kita semua. Semoga dalam minggu ini hati kita penuh dengan sukacita, sebab kita semua adalah orang-orang yang dibenarkan melalui iman percaya kita. Kita dibenarkan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat (ayat 16).

Inilah yang menjadi pandu dalam pergulatan iman Martin Luther, yang selalu tarik menarik dalam batinnya bagaimana beroleh keselamatan yang sungguh. Hingga dia tiba dalam Kita Roma 1:17, membuat hatinya tenteram, bahwa: “Orang benar akan hidup oleh iman”.

Ada dua pemahaman yang terjadi dalam memaknai hukum Taurat. Pertama: Legalisme, yakni bahwa keselamatan diperoleh dengan melakukan hukum Taurat. Kedua: Antinomianisme, Taurat tidak lagi penting atau diperlukan. Keselamatan kita terima hanya dengan iman. Namun orang yang diselamatkan tetap menghidupi hukum Taurat sebagai pandu untuk menghidupi keselamatan itu. Namun hukum Taurat bukan lagi jalan keselamatan, tetapi sebagai penuntun (“siparorot”) hidup hingga Krisus datang (Galatia 3:24).

Kristus telah bagi kita (Rom 3:9; 4:5; 6:23). DarahNya sendiri tercurah untuk menebus kita dari dosa-dosa dan kejahatan kita (Markus 10:45; 1 Pet 1:18-19). Dengan demikian, kita hidup, tetapi bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Dan hidup yang kita hidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi kita dan menyerahkan diriNya untuk kita (ayat 20).

Karena kita telah ditebus dengan darahNya yang mahal, maka kitapun dipanggil untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan kekuatan kita  (Heber 9:14). Kita dipanggil untuk “mempersembahkan” hidup kita kepadaNya (Latreuein Theo). Kita mengabdi kepada Allah atau beribadah kepada Allah, dengan cara rajin berbuat baik (Titus 2:14 “Manghapadothon Ulaon na denggan”). Itulah tanda atau bukti bahwa kita telah menghidupi karya penebusan Allah.

 Mungkin kita masih ingat kisah Kapal Tampomas II. Beberapa korban beberapa hari bertahan menerjang laut dengan memegang papan kecil. Mengapa mereka bertahan ? Karena mereka berjuang demi hidup. Bila kita mengikuti senam jantung, pemeriksaan kesehatan, berobat ke dokter, apakah tujuan semua ini ? Karena kita ingin hidup. Manusia rela menghadapi operasi, diinfus, disinar, dikemoterapi, karena kita ingin hidup. O betapa berharganya hidup kita ini, bukan ?

Tetapi cukupkah kita asal hidup ? Tidak ! Sebab ukuran hidup bukan hanya diukur dari seberapa panjang kita bernafas di dunia, tetapi bagaimana mutu hidup yang kita jalani itu. Tujuan Kristus datang ke dunia adalah agar kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita hidup bukan asal hidup, tetapi hidup yang bermutu dan bermakna.

Saudaraku yang kekasih ! Sebelum Paulus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka ototnyalah yang dia pahami sebagai sumber kehidupannya. Dia merasa perjalanan hidupnya ditentukan oleh kekuatan dan kehebatannya sendiri. Hidup yang dia jalani merupakan akibat yang dia peroleh dari usahanya dan kekuatannya.

Namun, kini dia berubah. Perubahan itu bukan pula karena inisiatif dan kekuatannya sendiri, tetapi karena kuasa Kristus yang telah mengubah hidupnya.  Bila Kristus yang hidup di dalam kita, maka Kristuslah yang menjadi kompas hidup kita. Dialah nahkoda dan pandu dalam hidup kita. KehendakNya yang menjadi arah yang kita ikuti dan teladani. JejakNya menjadi jejak ilahi untuk kita runut dalam hidup ini. Tidak ada lagi yang dapat kita andalkan, apalagi kita sombongkan, selain dari pada Kristus yang telah berkuasa memerintah hidup kita.

Bila Kristus telah hidup di dalam kita, tentu bukan lagi hanya pikiran kita sendiri yang menjadi pandu dan kompas dalam hidup kita. Tentu, kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dalam hidup kita; bukan lagi kehendak kita sendiri. Kristuslah yang hidup di dalam diri kita. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”  (ayat 20).

Saudaraku yang kekasih ! Alangkah nikmatnya bila kita hidup di dalam Yesus, dan Yesus hidup di dalam hidup kita. Nikmat sekali bukan ? Senikmat apa ? Mari kita rasakan bersama-sama. Tuhan memberkati. Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya