(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Daily Bread

Jumat, 17 Agustus 2026 - SUKACITA DALAM KETULUSAN: SAAT MEMBERI MENJADI SEBUAH PENYEMBAHAN

07 Aug 2026 00:30 👁 7 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Jumat, 17 Agustus 2026 - SUKACITA DALAM KETULUSAN: SAAT MEMBERI MENJADI SEBUAH PENYEMBAHAN

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus! Pernahkah anda menyadari bahwa dalam setiap tindakan memberi, yang dinilai Tuhan pertama kali bukanlah angka atau ukuran barangnya, melainkan getaran di dalam hati kita? Sering kali kita terjebak dalam rutinitas moralitas. Kita memberi karena merasa wajib, karena takut dinilai pelit oleh sesama, atau bahkan karena merasa "berutang" pada Tuhan. Akibatnya, tangan kita mengulur, namun hati kita menahan. Pemberian yang seperti ini kehilangan jiwanya; ia berubah dari sebuah berkat menjadi sebuah beban.

Rasul Paulus membawa kita pada dimensi yang jauh lebih dalam tentang esensi memberi. Kata "kerelaan" dalam teks aslinya bukan sekadar berarti 'setuju', melainkan sebuah keputusan matang yang lahir dari ruang paling dalam dalam batin kita. Tuhan tidak menginginkan persembahan yang lahir dari sisa-sisa keterpaksaan atau kesedihan karena merasa kehilangan sesuatu. Ketika kita memberi dengan menggerutu, kita sedang meragukan pemeliharaan Allah. Kita seolah berkata bahwa apa yang kita miliki adalah murni milik kita, dan Tuhan sedang merampasnya. Sebaliknya, memberi dengan sukacita (cheerful giver) adalah tanda dari hati yang sudah merdeka. Kita bisa memberi dengan senyuman karena kita tahu bahwa kita tidak pernah benar-benar kehilangan. Kita hanya sedang mengalirkan kembali berkat yang sejak awal dipinjamkan Sang Pencipta kepada kita. Mengalirkan air tidak akan membuat sumber mata air menjadi kering. Begitu pula dengan hidup kita; sukacita sejati ditemukan bukan saat kita menggenggam erat-erat, melainkan saat kita berani membuka tangan untuk menjadi saluran kasih-Nya.

Saudaraku! Hari ini, mari periksa kembali motivasi kita. Jadikan setiap pemberian kita, baik itu waktu, tenaga, materi, atau perhatian, sebagai bentuk ibadah yang harum di hadapan-Nya. Jika Tuhan telah memelihara hidup kita hingga detik ini, Dia pasti akan mengawal seluruh masa depan kita dengan kasih yang sama. Amin (JRT)

Pdt. Jusuf Roy Turnip, S.Th

Penulis

Pdt. Jusuf Roy Turnip, S.Th

Artikel Lainnya