Selasa, 2 Juni 2026 - MENGANDALKAN TUHAN
Pdt. Eva Marlina Sinaga, S.Th
Daily Bread
āLihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku.ā (Wahyu 3:20)
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, Tuhan kita ! Salam dan doa kami dari HKBP Medan Sudirman. Semoga hidup kita senantiasa dinaungi oleh kasih setia Tuhan. Kitab Wahyu merupakan tulisan Yohanes yang berasal dari penglihatan yang dialaminya sebagai jalan Tuhan untuk memberi kekuatan dan pengharapan iman bagi orang-orang Kristen di tujuh wilayah Asia Kecil. Salah satunya adalah Laodikia. Melihat keadaan Laodikia, sesungguhnya mereka sangat kaya dan makmur.Ā Industri wolnya berkembang pesat dengan produksi dan ekspor wol hitam, manufaktur pakaian sehari-hari dan pakaian mahal. Bahkan Laodikia memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasiĀ dalam bidang pengobatan mata dan telinga, dan telah mengembangkan salep mata yang sangat ampuh pada waktu itu. Hal yang juga menarik adalah bahwa suplai air bagi penduduknya berasal dari sumber mata air panas yang mengandung kalsium karbonat, namun ketika sampai di Laodikia, air itu menjadi suam-suam kuku sehingga membuat orang yang meminumnya menjadi mual.
Saudaraku! Sekalipun jemaat Laodikia kaya, namun mereka menjadi sangat sombong dan mengabaikan kehendak Allah dengan melakukan penyembahan berhala. Kekayaan telah membutakan mereka, sehingga tidak lagi memelihara persekutuan yang benar dengan Tuhan Yesus. Sesungguhnya kaya bukanlah sebuah kesalahan, namun yang acap kali salah adalah cara kita mendapat, memberi makna dan mengelolanya. Itu sebabnya Tuhan mengajarkan kita untuk selalu membuka diri mendengar firman Tuhan dan membuka hati menyambutNya.
Saudaraku! Melalui pernyataan āYesus berdiri dan mengetok pintuā pada nas ini merupakan gambaran kasih, kesabaran dan kerinduan Tuhan Yesus untuk berelasi dengan kita umatNya. Seperti jemaat Laodikia yang suam-suam kuku, kita seringkali bisa terjebak dalam rutinitas agama tanpa memiliki hubungan yang hidup dan dinamis dengan Kristus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Yesus selalu siap untuk masuk ke dalam hidup kita jika kita membuka hati kepadaNya. Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan untuk membuka pintu hati kita bagi Yesus atau menutupnya. Dengan membuka pintu, berarti kita mengundang Yesus terlibat dalam segala aspek hidup kita, baik pekerjaan, keluarga, keputusan pribadi dan relasi kita dengan orang lain.Amin! (AS)
Penulis
Pdt. Augustina Simaremare, S.Th
Pdt. Eva Marlina Sinaga, S.Th
Administrator
Administrator