Tata Ibadah dan Warta Jemaat, Minggu 31 Mei 2026
Administrator
Renungan & Khotbah
Renungan Minggu, 31 Mei 2026: MENJADI SAKSI ALLAH
(Ev. Matius 28:16-20)
Selamat minggu bagi kita semua. Semoga bapak ibu dan saudara semua hidup bahagia diberkati Tuhan.
Kitab Matius 28:16-20 ini sering disebut “Amanat Agung Yesus Kristus”, yakni perintah untuk menjadi saksi Kristus ke dunia ini. Perikope ini merupakan rangkaian kata-kata perpisahan dari Yesus kepada para murid, untuk turut dalam arak-arakan misi Pekabaran Injil dan menjadi saksi Allah yang Tritunggal itu.
Ke-11 murid berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka sesuai perintahNya (ayat 16). Galilea adalah wilayah dari banyak bangsa (Jes 9:1-2; Mat 4:14-16). Galilea merupakan tempat awal pelayanan Yesus. Kini misi pengutusan diawali dari sana, tempat yang strategis untuk penginjilan.
Di situ, yakni di Galilea, mereka berjumpa dengan Yesus dan menyembahNya, meski beberapa orang di antara mereka masih ragu-ragu (Matius; ayat 17). Misi bersaksi, walau dijalankan di tengah kelemahan, namun dijamin oleh penyertaan ilahi. KehadiranNya pasti dapat mengatasi kelemahan kita.
Memang percaya ada kalanya disertai dengan keraguan. Namun, meski ragu, tetaplah berani percaya, sebab keraguan itu menjadi momentum yang tepat untuk percaya dan menyembah Dia. “Misi tidak menunggu kita sempurna lebih dahulu. Allah bekerja dalam ketidaksempurnaan kita, asal kita mau dipakai dan dibentuk oleh Tuhan”.
Respons Yesus terhadap keraguan itu adalah: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ayat 18). Dialah sumber segala kuasa, di Sorga maupun di bumi. Maka, jangan pernah mengedepankan kuasa dan kekuatanmu (“unang pajolo gogo dohot huaso, alai gogo dohot huaso ni Jesus ma”).
Berdasarkan kuasa itulah Yesus mengutus mereka pergi menjadi saksi. Perintah “pergi” menyerukan agar mereka tidak terpaku, lalai dan berdiam diri di tempat, tetapi bergerak “move on” untuk sebuah tugas misi. Kesediaan “pergi” menjadi bukti ketaatan kita kepada Yesus sekaligus menjadi mitra kerja untuk menjadi saksi, dengan uraian tugas sebagai berikut:
Pertama: Menjadikan semua bangsa MuridNya dan membabtis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (ayat 19). Sebelumnya, Yesus mengutus murid-murid hanya kepada Israel saja (Mat. 10:5–6; 15:24–27), tetapi kini Ia memerintahkan mereka untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa. Misi ini adalah pelengkap dari misi kepada Israel, bukan untuk mengganti.
Inilah tugas pemuridan (“Matetheusate panta ta etne”: “to make disciples of all nations’). Tugas kita bukan “mengkristenkan” tetapi “memuridkan”, agar semua bangsa menjadi murid Kristus, terutama lewat sikap, perangai hidup sesuai dengan karakter Kristus. Itulah kesaksian kita yang utama.
Kedua: Mengajari mereka melakukan perintah Yesus (ayat 20). Para murid baru harus diajari untuk menaati perintah Yesus. Tujuan pengajaran bukan sekadar mengetahui, melainkan terutama menaatiNya (Mat 5:17–20; 7:21–27). Amanat agung dimulai dengan Yesus yang menerima segala kuasa, dan diakhiri dengan janji Yesus untuk bersama para murid-Nya hingga akhir zaman.
Berarti, perintah itu tidak ditujukan pada ke-11 murid saja, tetapi kepada murid dari murid secara terus-menerus hingga Yesus kembali. Tak ada satu hari pun di mana Yesus tidak bersama murid-muridNya termasuk kita. Kuasa dan kehadiran universal Yesus, itulah dasar bersaksi kita secara universal juga. Janji penyertaan Yesus sampai akhir zaman itulah kekuatan kita menjalankan misi.
Mari, sambutlah panggilan Yesus untuk bermissi. Tidak mungkin kita berdiam diri atas segala karya Allah bagi kita. Itulah jati diri kita yang sudah diselamatkan, menjadi saksi Kristus lewat hidup keugaharian kita. "To be a Christian is a choise, but to do mission nevers a choice".
Menjadi saksi adalah perintah imperatif Yesus. Hal itu bukanlah kelebihan kita, tetapi hutang yang tidak pernah lunas dan tidak pernah sanggup kita bayar. Celakalah kita bila tidak melakukannya (bnd. 1 Kor 9:16). Bersaksilah terutama lewat perangai kita yang baik, sebab itulah kesaksian kita yang lebih jitu. "Sai unang manuan hita ia di hata, hape mambutbuti ia di parange". Amen !
Penulis
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Administrator
Administrator
Pdt. Mangatur J Simanungkalit, S.Th