Tata Ibadah dan Warta Jemaat, Minggu 30 Agustus 2026
Administrator
Renungan & Khotbah
Renungan Minggu, 30 Agustus 2026:
FIRMAN TUHAN KEGIRANGAN HIDUP KITA
Saudaraku yang kekasih ! Salam sejahtera dan selamat minggu bagi kita semua.
Pernahkah saudara merasa bahwa seolah-olah Tuhan berlaku tidak adil dalam hidupmu, atau seolah Tuhan tidak berpihak kepadamu saat engkau melakukan kebaikan dalam melawan kejahatan atau saat mengatakan yang benar lawan kepalsuan ?
Seperti itulah pergumulan nabi Yeremia dalam nas ini. Dia merasa bahwa Tuhan tidak peduli pada pergumulannya. Bahkan seolah Tuhan melakukan pembiaran bahwa dirinya menjadi objek perbantahan oleh umat Israel serta telah mengutukinya (ayat 10). Yeremia banyak menanggung cela. Namun, mengapa Tuhan tidak segera membalaskan dendamnya itu kepada para penganiayanya ?
Yeremia menganggap, Tuhan telah melakukan pembiaran terhadap deritanya, oleh karena Tuhan yang panjang sabar (ayat 15). Deritanya tidak berkesudahan. Luka hatinya payah disembuhkan. Yeremia pun menggugat, Tuhan telah bagaikan sungai yang curang, yang air dan arusnya tidak dapat dipercayai sesuai penglihatan mata (ayat 18).
Apa respons Allah ? Allah justru memanggil Yeremia (dan kita kini) untuk bertobat kepada Allah (ayat 19).
Saudaraku ! Pada zaman nabi Yeremia, Yehuda memang ada dalam kondisi hidup beriman yang amat rapuh, kejahatan sosial serta situasi politik yang kacau. Kehidupan spiritual mereka rapuh, oleh karena mereka telah hidup sinkritis menyembah ilah-ilah.
Secara sosial mereka pintar dan lihai berbuat jahat dan enggan berbuat baik (Yer 4:22). Mereka melakukan kejahatan secara sadar dan menjadikannya sebagai makanan sehari-hari (Yer 5:3). Bila Tuhan memukul, mereka tidak lagi menerima hajaran itu, karena tidak lagi merasa sakit. Mereka mengeraskan kepala lebih dari pada batu (Yer 17:9).
Sedangka secara politis mereka sangat terancam oleh tekanan kekuasaan Babel. Mereka pun berkolusi dan berlindung di bawah kuasa Mesir. Ternyata Assur menang. Mereka pun dihabisi, ditawan dan dibuang ke Babel.
Sekarang pun, kala kita menghadapi berbagai problematika kehidupan, derita dan kesedihan, kita acap mengandalkan jabatan, pangkat dan kekuatan manusia, pikiran (otot dan otak), harta dan kekayaan bahkan mengandalkan 3 D (Dukun, Duit, Deking).
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN. Yusuf menghadapi tirani Mesir dalam menafsirkan mimpi dengan mengandalkan TUHAN. Daud menghadapi Goliat dengan mengandalkan TUHAN. Saat Saul memberinya pakaian tantara, dia menolaknya, karena pakaian itu malah membuatnya berat berjalan. Musa mengandalkan Tuhan lewat tongkat tua di tangannya. IL Nommensen juga mengandalkan Tuhan saat dia dipersembahkan ke Mulajadi na bolon di Onan Sitahuru.
Mengandalkan: BATACH ! Artinya: Mempercayakan secara bulat segenap hidupnya kepada TUHAN, baik harapan, cita-cita, masa depan, rencana dan lain-lain. TUHAN adalah sumber segala berkat (âhatuaonâ); bukan manusia atau dunia ini. Maka, lebih baik berlindung pada Tuhan dari pada kepada manusia (Mazmur 118:8-9).
Hiduplah di dalam Tuhan dan nikmatilah firmanNya. Itulah sumber kegirangan kita dan kesukaan bagi hati kita (ayat 16). Mengapa menjadi kegirangan ? Seperti kepada Yeremia, Tuhan memagarinya dengan tembok berkubu dari tembaga. Meskipun bangsa itu memeranginya, dia tidak akan dikalahkan, oleh karena Tuhan sendiri akan menyertai, menyelamatkan dan melepaskannya dari tangan orang jahat dan membebaskannya dari genggaman orang-orang lalim (ayat 20-21).
Maka, hiduplah mesra dengan Tuhan. Nikmati dan santaplah terus firmanNya dalam hidupmu. Hiduplah setia dalam doa, dan hidupi doamu dengan sungguh. Kerjakan apa yang kau imani, imani apa yang kau kerjakan. Saat menghadapi raksasa Goliat, Daud bergirang di dalam Tuhan dan berkata: âEngkau datang dengan pedang, aku datang dengan kekuatan Allahkuâ.
Bila saat ini engkau sedang menderita dan sedih padahal karena engkau melakukan kebenaran dan kebaikan, tetaplah semakin erat dan mesra merangkul Tuhan. Bila engkau merasa hidupmu dicurangi bahkan merasa Tuhan berlaku tidak adil dan melakukan pembiaran terhadap musuh-musuhmu, segeralah menaati dan menikmati firman Tuhan. Niscaya, kita semua akan merasakan kegirangan yang sungguh dan sejati.
Bagaimanakah kita bisa merasakan hati yang bergirang di sana ?
Seperti kepada Yeremia, meski kita dicurangi, diperlakukan tidak adil, sedih dan menderita, namun dalam kasihNya, Tuhan akan memagari kita lewat tembok berkubu dari tembaga. Meski kita diperangi berbagai musuh, kita tidak akan dikalahkan, sebab Tuhan sendiri akan menyertai, menyelamatkan dan melepaskan kita (ayat 20). Tuhan sendiri akan melepaskan kita dari tangan orang jahat dan membebaskan kita dari genggaman orang-orang lalim (ayat 21).
Selamat bergirang hati di dalam Tuhan. Tuhan memberkatimu, memberkati saya dan memberkati kita semua. Amin !
Penulis
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Administrator
Administrator
Pdt. Mangatur J Simanungkalit, S.Th