(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 21 Juni 2026 - PEMELIHARAAN ALLAH YANG UNIVERSAL

20 Jun 2026 17:40 👁 152 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 21 Juni 2026 - PEMELIHARAAN ALLAH YANG UNIVERSAL

Renungan Minggu, 21 Juni 2026:
PEMELIHARAAN ALLAH YANG UNIVERSAL
(Kejadian 21:8-21)

Inilah kisah antara Abraham bersama dengan Hagar dan Ismael, anaknya, bersama dengan Sara dan anaknya Ishak, yang baru disapih (“sirang susu”, sekitar umur 3 tahun) dari ibunya. Suatu waktu, Sara melihat anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu, sedang bermain dengan Ishak (sambil mengejek, mengolok-olok; “mangarehei”) anak itu (ayat 8-9). Nah, hal itu memicu konflik dalam keluarga Abraham, terutama antara Sara dengan Hagar.

Perikope ini mengetengahkan tentang dua anak, dua ibu dan dua janji. Ishak adalah anak perjanjian dari Sara. Ismael adalah anak yang dilahirkan Hagar akibat Abraham dan Sara tidak sabar menunggu janji Tuhan (Kej 16). Keputusan yang tidak sabar dan buru-buru, memang acap membuat hidup keluarga berantakan. Syukurlah, jalan dan kesetiaan Tuhan tidak tergantung kepada kesempurnaan hidup kita. Janjinya tetap lurus di tengah ketidaksetiaan kita sekalipun.

Sara pun meminta Abraham mengusir Hagar, hambanya perempuan itu beserta anaknya, sebab anak itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan Ishak (ayat 10; Gal 4:30). Namun hal itu menyebalkan hati Abraham oleh karena anaknya, Ismael (ayat 11).

Memang, keturunan Abraham ialah yang berasal dari Ishak (ayat 12). Namun, Tuhan akan membuat suatu bangsa (“a great nation”) dari hambanya itu, karena Ismael juga adalah anaknya (ayat 13). Abraham pun memberangkatkan Hagar dan anaknya dengan roti dan sekirbat air lalu mengembara di padang gurun Bersyeba (ayat 14).

Saat air itu habis, anak itu dibuangnya (“dipapeak”) ke semak-semak (ayat 15). Hagar merasa hidupnya, termasuk hidup Ismael sudah tamat. Hagar pun duduk menjauh, karena tak tahan melihat anak itu mati meraung-raung (ayat 16). Tak ada yang mendengar tangisan Ismael, kecuali Allah. Namun Hagar tak perlu takut dan susah, karena Allah telah mendengar suara erangan anak itu (ayat 17). Malaikat menyuruh Hagar bangun untuk mengangkat anak itu, sebab Tuhan akan menjadikannya bangsa yang besar (ayat 18).

Allah membuka mata Hagar. Ia pun melihat sebuah sumur. Lalu dia mengisi air ke kirbatnya dan memberi anak itu minum (ayat 19). Allah menyertai anak itu hingga bertumbah besar dan menetap di padang gurun Paran dan menjadi seorang pemanah (ayat 20), lalu menikah dengan seorang Perempuan Mesir (ayat 21).

Tema Minggu kita adalah: “Pemeliharaan Allah yang Universal”. Laksana matahari, dia tidak pernah memilih ke mana dia bersinar, sebab sinar cahayanya terarah kepada segenap ciptaanNya. Demikianlah kasih Allah berlaku universal bagi seluruh dunia dan segala isinya. Kasih Tuhan adalah tanpa batas. Dia memelihara segenap ciptaanNya tanpa pilih kasih. Dia mengasihi umat pillihanNya (“am adonay”), tetapi juga bangsa-bangsa lain (“goyim”).

Tuhan tidak pernah membiarkan siapapun terbuang, walau mereka tengah berada dalam “padang gurun” kehidupan, tersingkir dan terabaikan. Meski Hagar seorang hamba, dan Ismael bukan yang dipilih, namun Tuhan memelihara hidup mereka selanjutnya. Kasih Tuhan tak terbatas oleh strata manusiawi, oleh batas-batas sosial kehidupan, suku (Hagar berasal dari Mesir) bahkan kepercayaan. Kasih Tuhan adalah inklusif dan universal terhadap semua orang dengan segala latar-belakang yang ada.

Kecemburuan Sara melihat Hagar dan Ismael berakibat buruk kepada pengusiran mereka oleh Abraham, walau pada awalnya, Saralah yang menawarkannya kepada Abraham. Meski bukan Hagar dan Ismael yang dipilih, namun bukan berarti Allah menelantarkan hidup mereka. Ishak sebagai anak perjanjian dan Ismael sebagai anak daging, mereka sama-sama dipelihara dan diberkati oleh Tuhan.

Inilah kasih Allah yang tanpa batas, tetapi melampaui segala batas-batas soliter yang ada. Di sinilah letak kedaulatan Tuhan yang memilih jalur perjanjian, tetapi sekaligus berbelas-kasihan kepada yang terbuang. Tuhan tidak berlaku kejam kepada orang yang “kalah” (bnd. “Situmpak na monang”).

Dalam perjalanan di padang gurun, Hagar menderita kekeringan. Sebagai seorang ibu yang terbatas, dia tak kuasa menahan pilu melihat anaknya meraung kekeringan. Hagar pun tak tahan melihat Ismael mati diterpa pahit getirnya kekeringan. Namun, Tuhan berkuasa membuka sumur bahkan di padang gurun sekalipun, sehingga Ismael bahkan Hagar dapat minum dari sana.

Saat-saat jalan hidup sedang buntu, di situ Allah berkuasa membuka jalan bagi kita (bnd. Laut merah). Bahkan Ismael justru hidup berselancar di padang gurun dan menjadi pemanah. Tuhan menjadikannya menjadi bangsa besar (“goy gadol”). Padang gurun yang gersang (bahkan kejam), justru telah membentuk dirinya menjadi orang yang kuat dan tahan banting. Berkat Tuhan kepada Ismael menjadi bukti bahwa kasih Allah tidak terbatas hanya bagi umat pilihanNya, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain di luar umat pilihanNya.

Kisah Hagar menjadi inspirasi bagi para ibu yang berjuang demi masa depan anaknya. Air matamu telah membeningkan matamu melihat uluran tangan Tuhan. Air mata perjuangan terhadap anakmu, menjadi doa yang tak terucapkan di hadapan Tuhan yang berkuasa memberkati anak-anakmu yang mungkin sedang menangis, meraung menderita dalam pahit getirnya kehidupan ini.

Namun air mata saja tidak cukup. Yang terutama adalah berkat Tuhan kepada anak-anak. Ismael bertumbuh dewasa dan bersahabat dengan padang gurun yang kejam gersang dan kejam. Ismael menjadi prototipe anak-anak petarung dalam kehidupan ini. Namun, berkat Tuhanlah yang menjadikannya seorang pemenang. Kitapun, meski berjuang dengan berbagai pahit getirnya kehidupan, bersama Tuhan kita dapat menjadi seorang pemenang.

Terpujilah Tuhan. Allah yang universal itu setia mengasihi saya, mengasihi saudara, mengasihi kita semua bahkan mengasihi mereka semua. Maka kitapun dipanggil untuk mengasihi semua orang secaa universal, tanpa harus membeda-bedakan latarbelakang agama, suku, budaya, rasa tau Bahasa. Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya