(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 19 Juli 2026 - HARI SUKACITA DAN KEMENANGAN UMAT TUHAN

18 Jul 2026 22:36 👁 200 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 19 Juli 2026 - HARI SUKACITA DAN KEMENANGAN UMAT TUHAN

HARI SUKACITA DAN KEMENANGAN UMAT TUHAN
(Ester 9:11-19)
CPdt Carel HA Siburian, MTh

Selamat hari Minggu bapak ibu saudara/i terkasih.

Mari kita bayangkan terlebih dahulu, ada sebuah bangsa yang tadinya terancam punah, tetapi kemudian merayakan pesta kemenangan!

Itulah situasi yang terjadi dalam Ester 9:11-19. Setelah dekrit Haman untuk memusnahkan orang Yahudi "dibatalkan," mereka diizinkan mempertahankan nyawa mereka serta memusnahkan seluruh tentara dan bangsa yang hendak membunuh mereka (Ester 8:11).

Pada tanggal 13 bulan Adar, orang Yahudi menang atas musuh-musuh mereka. Di provinsi-provinsi, mereka beristirahat pada hari ke-14, sedangkan di Susan, karena pertempuran berlanjut sehari lagi, mereka baru beristirahat dan bersukacita pada hari ke-15 (ay. 11-18).

Dari peristiwa hari inilah lahir tradisi Purim yang dirayakan turun-temurun dengan pesta, sukacita, saling mengirim makanan, dan memberi kepada orang miskin (ay. 19, 22).

Hal yang menarik adalah bahwa sukacita ini bukan sekadar euforia karena mereka selamat dari maut, melainkan sukacita yang dibagikan kepada sesama dan kepada mereka yang berkekurangan. Kemenangan Allah atas kejahatan tidak dinikmati sendiri; melainkan keselamatan itu menciptakan komunitas yang saling peduli.

Perayaan ini menjadi tanda bahwa Allah tetap bekerja di "balik layar" sejarah, bahkan ketika nama-Nya tidak disebut eksplisit dalam kitab Ester.

Bapak Ibu dan saudara/i terkasih. Di sinilah kita bisa menghubungkannya dengan Yohanes 10:11-16, di mana Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Maka sama seperti orang Yahudi yang diselamatkan dari ancaman pemusnahan melalui perjuangan yang Allah izinkan, kita pun diselamatkan dari maut kekal melalui Gembala yang rela mati bagi kita.

Dan seperti sukacita Purim dibagikan, Yesus juga menghimpun "domba-domba lain" menjadi satu kawanan (ay. 16); sebagai komunitas sukacita yang inklusif, membantu yang lemah dan berkekurangan. Sukacita sejati bukan untuk disimpan sendiri.

Maka pertanyaannya sekarang adalah: sudahkah kita membagikan berkat, penghiburan, atau bahkan sekadar waktu kepada orang di sekitar kita yang sedang berkekurangan?

Mari jadikan momen syukur kita menjadi berkat nyata bagi sesama; sebagaimana Sang Gembala telah lebih dulu memberi diri-Nya bagi kita.

Tuhan memberkati kita semua dan memberi kita sukacita kemenangan atas berbagai perjuangan kehidupan kita. Amin.

CPdt. Carel HA Siburian, MTh

Penulis

CPdt. Carel HA Siburian, MTh

Artikel Lainnya