(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 19 April 2026 - BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN

18 Apr 2026 22:02 👁 199 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 19 April 2026 - BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN

BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN
(Habakuk 3:10-19)

Selamat minggu bagi kita semua bapa ibu dan saudara-saudari sekalian. Salam sejahtera di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kita !

Nabi Habakuk hidup dalam sebuah masa yang amat menyedihkan secara nasional. Israel sebagai sebuah bangsa, menderita di ambang kehancuran akibat dosa dan kejahatan mereka. Penjajahan Babel merupakan hukuman Tuhan atas mereka yang tidak lagi memerankan jatidiri sebagai hamba Allah.

Raja Yosia mereformasi hidup umat Israel dari penyembahan ilah-ilah. Namun penerusnya, Yoahas, adalah seorang raja yang jahat di mata Tuhan. Akibatnya, Yerusalem akan hancur di tangan Babel, bangsa yang keji dan lebih jahat dari umat Tuhan (1:6-8). Sepuluh tahun setelah Yosia mati, Yerusalem pun hancur berantakan luluh lantak di tangan Nebukadnezar.

Habakuk dikenal sebagai seorang Nabi yang gemar bergulat dalam iman dengan Allah oleh karena kerinduannya akan keselamatan umat (1:2-4). Menurutnya, jawaban Tuhan seringkali tidak sesuai bahkan bertentangan dengan isi hati nuraninya. Dia gagal paham, kenapa Allah “tidak” adil mendengar doanya, tetapi malah menjawabnya dengan penghakiman dan penghancuran (1:9-17) dan akan dibuang ke negeri orang asing.

Habakuk sungguh tak mengerti sikap Allah ini. Namun, di puncak pergulatan iman dan di tengah ketidakmengertian itu, dia akhirnya berserah dan menyatakakan: "Sesungguhnya orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang benar itu akan hidup oleh percayanya" (2:4). Gagal paham akan situasi itu, tidak lagi membuat Habakuk berontak, berbantah, marah dan berontak, melainkan berserah dan bergerak memuji Tuhan.

Habakuk bergulat menyisipkan dan memohon belas kasihan dan pengampunan Tuhan (bnd. Doa Abraham untuk Sodom dan Gomora). Habakuk percaya bahwa belas kasihan Allah lebih besar dari murkaNya. Dia yakin bahwa murka Allah akan surut. Itu cuma soal waktu. Di dalam Tuhan selalu ada masa depan dan harapan. Walau sepertinya berlambat-lambat, saatnya pasti akan tiba, karena janji Tuhan adalah pasti (Hab 2:3).

Saat Babel menghancurkan Israel, seluruh hasil bumi dan ternak habis luluh lantak tak berbuahkan apa-apa. Namun Habakuk tetap memuji Allah katanya: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku" (17-18).

Awalnya Habakuk tidak mengerti maksud Tuhan yang seolah tutup mata kepada kefasikan dan membiarkan bangsa itu ditindas. Namun pergumulan Habakuk akhirnya terjawab, bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan orang-orang yang benar di hadapanNya. Meski gelap melingkupi umat, Habakuk tidak larut dalam kepedihan berkepanjangan. Dia justru mengarahkan hatinya kepada Tuhan dan percaya akan firmanNya. Ini tentu tidak mudah. Dibutuhkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Imannya melihat jauh ke depan melampaui realita yang ada.

Sekalipun situasi tidak mendukung, iman Habakuk tidak pernah runtuh oleh situasi. Inilah satu bukti kedewasaan rohani. Meski segalanya tampak buruk, yakni kegagalan panen dan kematian ternak, namun Habakuk tetap percaya kepada Allah yang tidak akan ingkar janji membebaskan umatNya. Terimalah dengan lapang dada segala akibat dari kesalahanmu. Namun tetap percaya, kasih Allah jauh lebih besar dari murka-Nya ! KesetiaanNya tak pernah luntur, lekang dan berubah !

Habakuk percaya, hukuman Allah tidak akan membuat bangsa Israel punah. Dia akan melepaskan Israel dari cengkeraman Babel. Kasih Allah atas Israel tak pernah pudar. Allah yang telah membebaskan Israel dari Mesir, Dia sendiri akan melepaskan umatNya dari bangsa lain. Dan meski Allah menghukum bangsa Israel, itu bukan berarti Babel akan terhindar dari hukuman Allah. Orang jahat tak selamanya berada di atas angin. Pada saatnya mereka akan menuai akibatnya. Sebab barangsiapa menabur dalam daging, ia akan menuai kebinasaan; tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu (Gal 6:8).

Saudaraku yang kekasih ! Apapun lika-liku hidupmu, tetaplah bergembira di dalam Tuhan. Percayalah, dalam semua itu, Tuhan sedang merancang damai sejahtera bagi kita. Kalaupun mungkin hidupmu kini sedang redup atau masa depan seolah suram, tetaplah percaya bergembira di dalam Tuhan, karena kita sedang ada dalam “design” Tuhan sepadan dengan rencana keselamatanNya bagi kita. Ingat: Bumi ini penuh dengan kasih setia Tuhan (Mazmur 33:5c). Maka tetaplah percaya dan bergembiralah. Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya