(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 12 April 2026 - HIDUP DALAM KEKUDUSAN

11 Apr 2026 19:43 👁 116 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 12 April 2026 - HIDUP DALAM KEKUDUSAN

HIDUP DALAM KEKUDUSAN
(1 Petrus 1:13-16)

Bapak ibu saudaraku yang kekasih dan para sahabat di manapun kita berada. Salam sejahtera bagi kita semua !

Saudaraku ! Surat 1 Petrus ini awalnya ditujukan kepada orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (ayat 1). Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat yang belum mengenal Kristus bahkan yang senantiasa membenci para pengikut Kristus. Mereka menderita, ditindas, dianiaya dan difitnah, termasuk oleh pemerintah Romawi kala itu.

Tujuan surat ini dituliskan adalah agar mereka semakin taat dan kuat imannya di dalam Yesus Kristus dengan cara menghidupi atau memerankan perangai hidup kudus, sama seperti Dia yang telah memanggil kita adalah kudus (ayat 15-16).

Hidup kudus bukan beban, tetapi merupakan ungkapan iman dan syukur kita kepada Tuhan sekaligus menjadi identitas diri setiap orang percaya. Hidup kudus bukan saja menyentuh pikiran, hati dan pengharapan, tetapi merupakan karakter hidup keugaharian kita. Itu menjadi bukti relasi kita yang hidup dengan Tuhan.

Anak-anak Allah haruslah hidup dalam kekudusan. Mengapa ? Karena Allah kudus. Tuhan adalah standar hidup kudus (_Ibr. “Qadosy”_): hidup tampil beda, hidup dikhususkan untuk Tuhan. Artinya tidak ada area netral dan abu-abu bagi setiap orang percaya. Hidup kudus menjadi identitas rohani kita sebagai anak-anak Allah.

Hidup kudus itu operasional dan nyata dalam keseharian hidup kita. Hidup kudus itu maksudnya bukan hidup sok suci, muka alim dan polos atau hidup eksklusif dengan memisahkan diri dari orang lain dan menaziskan mereka. Hidup kudus adalah menempatkan diri untuk senantiasa menaati Tuhan dan melakukan kehendakNya. Juga menjauhkan diri dari ilah-ilah dunia, menghancurkan masa depan anak dengan mempersembahkan anak kepada dewa Molokh, menajiskan tempat kudus Tuhan, melakukan perzinahan, menyembah arwah atau roh-roh peramal (Imamat 20:1-7).

Di tengah kepelbagaian nilai-nilai yang ada di dunia bahkan yang acap berubah-ubah, panggilan untuk hidup kudus menjadi satu nilai hidup yang mendesak. Selain menjadi identitas diri, hidup kudus bagi orang percaya menjadi gaya hidup keseharian kita. Dan itu dapat kita lakoni dengan pola hidup laksana seorang bayi yang tidak dapat terpisah dari ibunya, sebagaimana panggilan Minggu Quasimodogeniti, sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang Rohani (1 Pet 2:2).

Dalam rangka melakoni hidup kudus itu, sekaligus menjadikan hidup kudus sebagai karakter dalam hidup kita, ada beberapa hal yang perlu kita rawat guna menjaga dan memelihara hidup kudus itu, yakni:

Pertama: Persiapkanlah akal budimu agar tetap tenang dan sadar (ayat 13a). Mempersiapkan akal budi (“hohosi rohamuna”), maksudnya jangan sampai pikiran atau hati kita ngelantur terombang-ambing, gelap dan kacau. Saat akal budi kita tidak terjaga, saat itulah hidup kudus kita kacau amburadul tak menentu.

Untuk hidup kudus, Tuhan menghendaki kita menjadi orang-orang yang berakal budi, sehingga kita dapat menyadari secara mendalam kasih Tuhan yang tak terselami guna keselamatan kita. Kita tidak boleh menganggap sepi pengorbanan Kristus. Hal itu hanya dimungkinkan disadari, bila kita senantiasa mengasah akal budi, agar cakap untuk melakukan kehendak Allah dan membedakan mana yang baik dan yang benar.

Kedua: Waspada dan letakkanlah pengharapanmu atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu (ayat 13b). Jaga, rawat dan peliharalah agar pengharapan kita tetap hidup dan bertumbuh di dalam kasih karunia Tuhan. Jangan sampai putus asa, sebab Tuhan adalah sumber pengharapan kita. Saat pengharapan kita putus dan pupus, saat itulah hidup kudus kita kerdil, tidak bertumbuh bahkan mati. Letakkanlah senantiasa pengharapanmu di dalam Dia yang telah mengukir keselamatan bagi kita.

Kita harus selalu waspada serta meletakkan pengharapan kita seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jangan sampai kita meletakkan pengharapan kepada dunia ini. Laksana seorang ibu di kampung yang melilitkan kalung berisi jampi-jampi ke leher anaknya, dia meletakkan harapannya ke jampi-jampi tersebut demi keselamatan anaknya. Itu sangat keliru.

Ketiga: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan biarkan hawa nafsumu menguasaimu (ayat 14). Hidup kudus dapat kita lakoni dan kita jaga dengan hidup menaati firman Tuhan. Hidup kudus dapat kita rawat dan hidupi dengan tidak menuruti hawa nafsu dan tidak pernah membiarkan hawa nafsu itu menguasai kita. Kita harus meninggalkan keinginan-keinginan lama: yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Demikian kita dapat hidup kudus dan menjadi saksi Allah di dunia ini.

Dapatkah kita mempertahankan semua itu ? Pasti dapat ! Asalkan kita, sesuai makna Minggu Quasimodogeniti, kita selalu hidup menyatu, hidup tergantung sepenuhnya kepada Tuhan, hidup yang tidak pernah terpisah dengan Tuhan bagaikan seorang anak yang tengah menyusui yang tidak pernah pernah terpisah dari ibunya. Hidup kudus hanya dapat kita pertahankan sepanjang hidup kita tetap menyatu dan tidak pernah terpisah dengan Tuhan kita. Amin !

Pdt. Banner Siburian

Penulis

Pdt. Banner Siburian

Artikel Lainnya