Tata Ibadah dan Warta Jemaat, Minggu 11 Oktober 2026
Administrator
Renungan & Khotbah
Khotbah Minggu XIX Trinitatis, 11 Oktober 2026:
ALLAH MEYUKAI KASIH SETIA
(Hosea 6:1-6)
Selamat Minggu bagi kita semua. Semoga Minggu ini membawa sukacita dan memberi kebahagiaan bagi kita semua dengan hidup dalam kasih setia Tuhan.
Saudaraku ! Hosea bernubuat di Israel Utara yang tengah kacau dan hancur terpuruk. Bagai beruang yang kehilangan anak, Tuhan akan mendatangi dan mengoyakkan dada mereka (13:8). Hidup Israel semakin menyedihkan, bagai bunga mekar yang terpotong, dengan bunga indah bagai tunggul hitam berbau busuk.
Hosea dianalogikan sebagai Israel yang tidak setia. Kata Tuhan kepada Hosea: âPergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal dengan membelakangi TUHANâ (1: 2-3).
Hosea pun mengawini Gomer, anak Diblaim, lalu mengandung dan melahirkan anak laki-laki, yakni Yizreel (artinya: Tuhan akan menghukum dan menceraiberaikan mereka). Lalu, perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan anak perempuan, yakni Lo-Ruhama (tanpa belas kasihan). Tuhan tidak menyayangi lagi kaum Israel dan tidak mengampuni mereka. Kemudian dia mengandung lagi dan melahirkan anak laki-laki: Lo-Ami. Artinya: Sebab kamu bukanlah umatKu dan Aku bukan Allahmu (1:8-9).
Hosea, artinya: âtindakan penyelamatanâ atau âpenyelamatâ. Hosea adalah pengantin pria sejati dengan Gomer pelacur berdosa. Ini memaksudkan orang Israel ialah sebagai pelacur yang tidak setia, baik para pemimpin agama dan sipil (4:4-11; 5:1-3). Mereka bahkan melakukan upacara kesuburan di kuil sendiri.
Saudaraku ! Kitab Hosea menyatakan sebuah proklamasi iman, bahwa: Tuhan setia di dalam kasihNya. Laksana domba yang terluka dimangsa singa, Tuhan sendiri datang menerkam singa itu lalu menyembuhkan kita. Dia datang memukul singa di satu sisi dan lalu membalut kita di sisi lain (ayat 1b).
Tuhan setia di dalam kasihNya. Karena itulah pula, Allah menyukai kasih setia. Meski kita acap tak setia dan taat, namun hal itu tak membuat Tuhan berpaling dari kita. Itulah kasih Allah yang tak pernah terukur, tak terselami dan tak terselidiki. Semua itu mengarahkan kita untuk berbalik dan setia kepadaNya (ayat 1).
Allah menyukai kasih setia. Maka, hendaklah Israel, dan kita sekarang, berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ia pasti muncul seperti fajar. Ia akan datang kepada kita seperti hujan yang mengairi bumi (ayat 3). Maka janganlah kasih kita seperti kabut pagi, atau seperti embun yang hilang pagi-pagi benar (ayat 4).
Namun, Allah yang penuh kasih karunia, telah menebus mereka, dan kita kini dari keberdosaan kita. Tuhan menyayangi dan menyelamatkan kita, meski dengan berbagai dosa dan kejahatan. Namun, Tuhan setia dalam kasihNya. Hanya TUHAN-lah Allah kita. Manakala kita telah menyerahkan hidup kepada kekuatan dunia ini, firman ini memanggil kita untuk sungguh-sungguh kembali kepada Allah dan setia kepadaNya.
Allah menyukai kasih setia. Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan tidak pernah menduakan Tuhan atau menjadikannya sebagai Allah alternatif (bnd. Titah I: Monoerisme Tuhan). Kita bukan sekedar ber-Tuhan secara formalitas. Ibarat keluarga, seorang suami bisa saja memuja-muja isterinya lewat ucapannya, namun di belakang dia mendua hati. Amin !
Penulis
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Administrator
Administrator
Pdt Alfi Ade Riyandhi Sitorus, S.Th