(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Artikel & Tulisan

MENGHAYATI DAN MEMAKNAI MINGGU PENTAKOSTA MASA KINI

23 May 2026 08:17 👁 116 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
MENGHAYATI DAN MEMAKNAI  MINGGU PENTAKOSTA MASA KINI

Oleh: Pdt Banner Siburian

Pentakosta adalah peristiwa historis akan pencurahan Roh Kudus, yakni 50 hari setelah kebangkitan Yesus. Minggu pencurahan Roh Kudus  meneguhkan iman percaya kita bahwa Tuhan hadir di mana-mana (Mazmur 139:7-12). Kuasa dan kehadiranNya tak terbatas dan tak terikat oleh ruang dan waktu (”space and time”), oleh media apa dan manapun.

Pentakosta sederhananya kita maknai sebagai Ulang Tahun lahirnya gereja secara Am. Hal itu ditandai dengan peristiwa dibabtisnya 3000 orang percaya pada hari pencurahan Roh Kudus (Kis 2:41). Hal itu dimaknai sebagai buah sulung gereja. Tanpa Pentakosta, gereja tidak ada di dunia ini. Kita pun percaya bukanlah oleh atau dari diri kita sendiri, melainkan oleh karena kita telah dipanggil Tuhan melalui Roh Kudus.

Dalam Perjanjian Lama, benang merah Pentakosta adalah dari pesta panen, atau yang acap disebut “Pesta Gotilon”. Bangsa Israel mensyukuri dan merayakannya, terutama setelah mereka keluar dari Mesir (Imamat 23:1-16). Selanjutnya, mereka menerima Hukum Taurat di gunung Sinai, guna membaharui sekaligus menuntun mereka dalam perjalanan hidup berikutnya. Panen dalam Pentakosta adalah kedatangan orang-orang percaya kepada Tuhan.

Pentakosta adalah penggenapan janji Yesus Kristus akan Roh Penghibur bagi murid-murid dan kita umatNya di dunia ini. Yesus tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu (ayat 18: “Orfanous”). Allah Bapa akan memberikan Penolong, yakni Roh Kebenaran, untuk menyertai kita selama-lamanya (Yoh 14:15-26). Yesus akan datang kembali melalui Roh Kudus. Dialah ”Parakletos”, yakni Penolong (ay 16), Roh Kebenaran (ay 17: ”Pneuma tes aletheias”), atau Penghibur (ay 26: ”Pangondian”: ”Pneuma ton hagion”).

Itulah yang digenapi dalam peristiwa Pentakosta di Yerusalem (Kisah Rasul 2). Saat orang percaya (kala itu) berkumpul di sana. Roh Kudus dicurahkan bagi mereka, yang diidentifikasi dengan turunnya dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah. Tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api, bertebaran dan hinggap pada mereka (ayat 2-3).

Angin bertiup tentu tak dapat dilihat kasat mata, namun pasti dapat dirasakan. Laksana tiupan angin, kehadiran Roh memang tidak dapat kita lihat, namun pasti dapat dirasakan. Dia datang dan hadir dengan bebas, meski tidak pernah terikat dengan kita. Dia tak dapat digenggam atau dihempang masuk ke hati sanubari kita. Dalam menyambut Roh Kudus, kita tidak boleh mengandalkan rasionalitas kita, meski kita tidak mengabaikannya juga.

Bagaimana wujud kehadiran Roh Kudus bagi mereka kala itu ? Mereka berkata-kata dalam bahasa lain sesuai dengan pemberian Roh kepada mereka. Roh menggerakkan mereka untuk berkata-kata. Orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit, masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri (ay 5-6).

Walau beda bahasa, namun mereka mengerti satu sama lain. Yang berkata-kata adalah orang Galilea, namun 17 suku bangsa yang hadir, mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa yang mereka pakai di negeri asalnya (ayat 7-12). Kita kini kadang hanya dengan satu bahasa pun, namun acap kali tidak saling mengerti satu sama lain (Kej 11).  Roh Kudus membuahkan pengertian dalam perbedaan (“masiantusan”).

Sedangkan lidah-lidah seperti nyala api, mensyaratkan Roh Kudus hadir menerangi segenap keberadaan manusia, sekaligus membakar segala perangai bahkan dosa yang masih melekat dalam diri kita. Lidah-lidah api itu, juga menunjukkan karya Roh Kudus yang berkuasa untuk menyucikan dan menguduskan kita dari segala dosa, kesalahan bahkan kejahatan.

Bagaimanakah kita memaknai dan menghayati peranan Roh Kudus dalam keseharian hidup kita kini ?

Pertama: Roh Kudus membentuk kembali hidup kita. Ibarat mobil baru yang jatuh, tabrakan atau tergadai sehingga penyok, ringsek dan karatan, demikianlah hidup kita telah karatan, aus, lecet, dan tercampak oleh kuasa dosa, telah merusak bahkan merobek-robek sendi-sendi kehidupan kita. Bagai tukang besi, Roh Kudus membentuk kembali, mengamplas dan membaharui hidup kita, sehingga hidup kita pun menjadi kembali baru seperti sedia kala.

Kedua: Roh Kudus mengajar dan mengingatkan kita kembali akan firman Yesus terutama penebusan kita. Walau telah ditebus, dunia bisa saja menggoda dan menghimpit hidup kita. Nah, Roh mengingatkan kita kembali agar penebusan itu tetap terpatri dalam-dalam di hati sanubari kita, sehingga hidup kita tidak lagi dibelokkan kuasa dosa. Kala kita tidak punya uang yang cukup misalnya, kita diingatkan agar tidak tergoda mencuri atau korupsi, atau mengoplos pertalite menjadi pertamax atau mengoplos beras biasa menjadi beras premium.

Ketiga: Roh Kudus membantu kita menunaikan tugas untuk menjadi saksiNya (Yoh 15:10; Kis 1:8). Tugas bersaksi bukanlah pilihan, tetapi sebuah keharusan dan hutang yang harus kita bayar (1 Kor 9:16). Bersaksi, bukan terutama dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan kasih yang nyata. Perangai hidup sehari-hari, itulah kesaksian utama kita (Batak:  Hatindanghon ma ngolum, hangoluhon ma panindangionmi, ai ngolum i do panindangionmu).    

Keempat: Roh Kudus menghibur dan menopang kita hidup saling mengasihi sesuai perintah Yesus. Janji Yesus memberikan Penghiburan kepada para murid, didahului dengan seruan mengasihi Yesus, dengan menuruti segala perintahNya (Yoh 14:15-25). Roh Kudus menguatkan kita melaksanakan kasih kepada Allah dan sesama (Mat 22:37-40; Yoh 13:34-35). Kualitas kasih kepada Tuhan dapat diukur dari kesungguhan kita melakukan perintah dan menuruti firmanNya. Adalah pendusta, bila seseorang mengaku mengasihi Tuhan, namun melanggar perintah dan firmanNya di dalam hidupnya.

Apakah para murid mengasihi Yesus hanya saat Dia bersama-sama dengan mereka ? Kasih yang sejati justru lebih menggelora saat kita tidak bersama dengan orang yang kita kasihi. Cinta sejati ayah kepada isteri, justru lebih teruji saat mereka sedang berjauhan karena tugas atau dinas misalnya. Jauh di mata, namun dekat di hati. Anak rantau yang sayang orangtua, akan selalu mengingat nasehat orangtuanya. Dia hidup mandiri, menjaga dan menguasai diri dari perbuatan tercela. Mengasihi Tuhan senafas dengan melakukan perintah dan firmanNya.

Dalam Minggu Pentakosta ini, sambutlah Roh Kudus bertakhta di hatimu. Berilah dirimu dibentuk atau ditempa olehNya, sehingga hidup kita pun damai, saling memahami satu sama lain dan hidup dengan teratur (1 Kor 14:33,40). Dengarlah suara Roh Kudus lewat suara nuranimu yang setia mengingatkan kita agar jangan sampai lupa untuk melakukan segala perintah dan kehendakNya (Yoh 14:26). Bila kita mengasihi orangtua, pastilah kita menuruti nasehatNya. Mengasihi Tuhan senafas dengan menuruti firmanNya dan menaati perintahNya.

Jadilah cahaya Kristus (Kis 1:8), surat Kristus yang dapat dibaca (2 Kor 3:3) dan cermin wajah Kristus di dunia ini (1 Tes 1:8). Jauhilah kecongkakan dan hidup melawan perintah Tuhan, sebagai bentuk lain dari membangun menara Babel, menara kekacauan (Kej 11). Berilah dirimu diperlengkapi dengan karunia-karunia Roh (1 Kor 12), lalu nyatakanlah buah Roh dalam keseharian hidupmu, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya