Sabtu, 4 April 2026 - Terang dalam Hidup
Pdt. Santy Elfrida Sitompul
Daily Bread
“Kata-Nya: 'Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Markus 14:36)
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus Tuhan kita ! Salam dan doa kami semoga hidup kita senantiasa dinaungi oleh kasih setia Tuhan. Saudaraku! Di Taman Getsemani malam itu sunyi. Murid-murid tidur. Yesus bersujud di tanah. Ini adalah momen paling manusiawi sekaligus paling ilahi dalam seluruh narasi Injil: Allah yang menjadi manusia, bergumul dengan beban yang tidak bisa dibayangkan oleh pikiran manusia mana pun. "Cawan" yang dimaksud Yesus bukan sekadar penderitaan fisik salib, walaupun itu sudah cukup mengerikan. Cawan itu adalah beban menanggung dosa seluruh manusia, keterputusan dari Bapa, murka Allah yang penuh atas semua kejahatan yang pernah ada. Wajar jika Yesus berseru: "Ambillah cawan ini dari pada-Ku."
Yang membuat doa ini luar biasa bukan hanya kalimat terakhirnya, 'jadilah kehendak-Mu.' Yang luar biasa adalah keseluruhannya. Yesus tidak berpura-pura tidak merasakan beban itu. Ia datang kepada Bapa dengan sepenuh kejujuran: 'Aku tidak mau ini, Bapa. Tapi aku percaya kepada-Mu lebih dari kepercayaanku kepada perasaanku sendiri.' Inilah doa yang paling jujur dan paling dewasa yang pernah diucapkan karena ia memuat pergumulan yang nyata sekaligus kepercayaan yang dalam.
Kita sering berpikir bahwa menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan adalah tanda kelemahan, seolah kita menyerah, menyerah pada situasi, menyerah pada rasa sakit. Namun Getsemani membuktikan kebalikannya. Menyerahkan kehendak kepada Bapa adalah tindakan iman yang paling kuat yang bisa dilakukan seorang manusia. Yesus bisa saja tidak pergi ke salib. Ia memiliki kuasa untuk menghentikannya. Tapi Ia memilih untuk mempercayai rencana Bapa melebihi kenyamanan-Nya sendiri dan di sanalah kemenangan terbesar dalam sejarah manusia dimulai. Saudara bawalah segala pergumulanmu kepada Allah dengan kejujuran penuh. Lalu belajarlah pada Yesus: 'Tapi bukan kehendakku, kehendak-Mulah yang jadi. Amin ! (PMP)
Penulis
Pdt. Paima Maruli Tua Pardede
Pdt. Santy Elfrida Sitompul
Administrator
Pdt. Jarnata Sirait