Berjalan Dalam Pengharapan
Pengharapan kristiani meneguhkan langkah kita di tengah keadaan apa pun.
Baca renunganMikha 6:8
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)
Saudaraku yang dikasihi Yesus Kristus Raja Gereja, bila melihat kebiasaan bangsa Israel pada waktu itu, segala ritual agama terus mereka lakukan. Hari Raya dan kurban bakaranpun tidak pernah mereka lewatkan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari mereka: ketidak adilan merajalela dan ada dimana-mana. Orang miskin dan lemah hanya sebagai alat yang pantas untuk ditindas. Orang yang kaya dan berkedudukan merasa tinggi hati dan selalu bertindak sebagai tuan bagi orang lain. Bahkan yang lebih parahnya lagi, ditempat-tempat tersembunyi mereka menyembah dan mempertuhankan Baal.
Inilah yang diingatkan oleh Tuhan melalui nabi Mikha. Mereka telah melalaikan keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati dalam relasi mereka dengan sesama, walaupun mereka rajin beribadah. Secara sarkastis, Tuhan bahkan menunjukkan ketika harus memilih ritual bagi-Nya atau keadilan pada umat-Nya, Tuhan lebih menyukai keadilan bagi umat-Nya daripada korban bakaran bagi diri-Nya. Ritual yang dipersembahkan kepada Tuhan, tidak boleh menjadi ritualisme keagamaan yang kehilangan daya ubah agar umat menjadi lebih baik di hadapan Tuhan dan sesama.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berlaku adil, setia dan rendah hati. Adil berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus; suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian) patuh; taat. Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan kita dengan sesama manusia. Kesetiaan adalah salah satu karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Ams. 20:6). Rendah hati adalah karakter yang Tuhan senangi, sebab sikap itu adalah penyangkalan akan diri sendiri. Segala yang ada pada dirinya, dianggap sebagai karunia dari Tuhan yang memampukan dan memberi kekuatan sehingga dia mencapai apa yang di inginkan.
Penulis
Pdt. Mangatur J Simanungkalit
Pengharapan kristiani meneguhkan langkah kita di tengah keadaan apa pun.
Baca renungan
Pdt. Banner Siburian
DEBATA MANGALEHON TONDI HANGOLUAN (Hesekiel 37:1-14) Diloas Debata do bangso Israel tarbuang tu habuangan Babel, anggiat nian marhite habuangan i gabe ditanda nasida Debata, jala mulak muse tu Debata marhite hamubaon ni...
Baca renungan
Gr. Tumpal Sitanggang
Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap b...
Baca renungan