(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 7 Juni 2026 - DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN  ! 

06 Jun 2026 23:04 👁 35 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 7 Juni 2026 - DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN  ! 

Renungan Minggu, 7 Juni 2026:

DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN  ! 
(Mazmur 50:7-15)          

Selamat Minggu bagi kita semua. Semoga minggu ini membawa sukacita, penghiburan, kekuatan dan kebahagiaan bagi kita semua.

Saudaraku yang kekasih ! Dunia inidengan segala isinya adalah milik Tuhan. Apa yang kita persembahkan dan berikan kepada Tuhan, bukan karena Tuhan itu kekurangan atas pemberian bahkan persembahan dari kita. Kita mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, bukan karena Dia tidak mempunyai, tetapi karena Tuhanlah pemilik segala sesuatu yang ada pada kita sekarang. Dari Dialah kita terima segala sesuatu yang ada pada kita, bagi Dia dan untuk kemuliaanNya selama-lamanya.

Teks ayat 8-13 memaparkan kecaman Tuhan terhadap ibadah yang keliru. Keliru, karena Tuhan kekurangan korban sembelihan atau korban bakaran; bukan pula karena soal lembu atau kambing. Sebab Tuhanlah yang empunya semuanya itu, bahkan segala binatang hutan, beribu-ribu hewana di gunung, atau segala burung di udara. Segala apa yang bergerak di padang sesungguhnya ada dalam kuasa Tuhan.

Karena itu, Tuhan menghendaki bahwa yang terutama dalah mempersembahkan syukur sebagai korban kepada Allah dan membayar nazar kita kepada yang Mahatinggi.  Tuhan tidak menghendaki kita memberi persembahan yang tidak benar dan dari motivasi yang salah. Tuhan memanggil kita agar senantiasa berseru kepadaNya pada waktu kesesakan, maka Tuhan akan meluputkan kita. Namun setelah itu, kita diserukan untuk memuliakan Dia.

Sesungguhnya, dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan. Maka kita dipanggil mempersembahkan apa yang ada pada kita berangkat dari hati yang tulus, dari pengenalan kita yang sungguh akan karunia Tuhan. Itulah tandanya kita sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan.

Dialah Allah “Elohim” yang berkuasa atas segenap ciptaan. Persembahan yang kita serahkan kepada Tuhan, bukan datang dari diri kita sendiri, tetapi dari Tuhan kita. Lewat pengenalan kita yang sungguh kepada Tuhan, dari situlah kita mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan. Apa yang kita persembahkan, sesungguhnya itu adalah milik Tuhan yang telah dianugerahkanNya kepada kita. Sesungguhnya, keadaan kita adalah bagai tangan kosong di hadapan Allah. Kita memiliki dari pemberian Allah sendiri.

Persembahan yang benar, sejatinya berangkat dari mutu relasi kita dengan Tuhan. Berapapun jumlah nominal persembahan kita,  hal itu tetap tidak pernah sebanding dengan besarnya kasih karunia Tuhan kepada kita. Kita tetap mempersembahkannya dengan hidup rendah hati di hadapan Tuhan.

Dunia ini dengan segala isinya adalah milik Tuhan. Apa yang ada pada kita, semua itu sesungguhnya juga adalah milik Tuhan dan bersumber dari Tuhan. Maka,  bila kita pun mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan, jauh dari hati kita menyebut karena Tuhan sedang berkekurangan. Jauhlah dari kita yang memaknai misalnya gereja tidak akan hidup tanpa persembahan kita. Banyak orang berpikir, bahwa memberi persembahan kepada Tuhan, seolah-olah  memberi piutang kepada Tuhan. Jumlah persembahan tidak dengan sendirinya mencerminkan hati. Tetapi hati yang bersyukur, selalu tercermin dalam jumlah terutama mutu persembahan yang dipersembahkan (Minyak Alabaster).

Tuhan tidak perenah kekurangan, apalagi terhadap pemberian kita, sebab segala apa yang ada di dunia dengan segala isinya adalah milik Tuhan. Jangan sampai kita menjadi congkak dan tinggi hati melalui persembahan kita, tetapi tetaplah hidup dengan taat dan rendah hati. Sebelum kita bisa memberi apa-apa, Tuhan sudah lebih dahulu memberi. Berapa banyakpun yang kita beri, itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pemberianNya bagi kita.

Persembahan hendaklah mengarahkan hidup kita menjadi puji-pujian bagi Tuhan.  Karena Dialah yang empunya dunia dengan segala isinya, maka kita pun percaya penuh akan pemeliharaan Tuhan atas hidup kita. Termasuk saat kita sedang dalam kesesakan, Tuhanlah yang berkuasa meluputkan kita. Semua itu memanggil kita agar tetap setia memuliakan Dia.  Dan ingat, sekali lagi, bukan karena persembahan itu maka kita ditolong dilepaskan Tuhan, tetapi karena anugerah dan kasih setiaNya semata dalam hidup kita.

Terpujilah Tuhan, Sang Pemilik dunia ini dengan segala isinya. Dunia ini sesungguhnya menjadi kebun rohani dari Tuhan untuk kita nikmati, kita kelola, kita rawat sekaligus darinya kita mempersembahkan persembahan kita menjadi pujian dan kemuliaan Tuhan. Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya