(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 29 Maret 2026 - AGAR NAMA TUHAN DITINGGIKAN

28 Mar 2026 18:20 👁 13 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 29 Maret 2026 - AGAR NAMA TUHAN DITINGGIKAN

AGAR NAMA TUHAN DITINGGIKAN !
(Pilipi 2:5-11)

Selamat minggu Palmarum bagi kita semua. Minggu ini menyerukan kita semua bahwa Yesus Kristuslah Tuhan, yang patut ditinggikan. Semoga minggu ini menjadi minggu sukacita yang membahagiakan bagi kita semua.

Surat Pilipi adalah surat sukacita. Ajaibnya, surat sukacita ini justru ditulis oleh Paulus dari penjara. Padahal, orang yang berada di penjara biasanya suka mengutarakan penderitaannya saja. Tetapi Paulus tidak. Dia malah meyampaikan Kabar Baik dengan semangat kepada jemaat Pilipi. Kehidupan jemaat ini sangat berkenan di hati Paulus. Mereka tidak gemar menonjolkan karunia roh, sebagaimana dengan jemaat Korintus.

Namun, ada satu hal yang mengurangi sukacitanya. Paulus berharap sukacita itu dilengkapi dengan hidup sehati sepikir, dengan satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, tidak mencari kepentingan diri sendiri dan puji-pujian yang sia-sia. Sukacita itu akan sempurna, bila persekutuan jemaat semakin ditingkatkan. Sehati sepikir dimaksudkan untuk saling memahami firman Tuhan. Satu kasih dalam arti kita saling mengasihi atas dasar Kasih, tidak mementingkan diri sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain.

Perselisihan di jemaat Pilipi sungguh merisaukan hati Paulus. Ia merasa sukacitanya akan semakin sempurna, kalau jemaat Pilipi bercermin diri kembali, yakni: supaya mereka tidak mencari kepentingan diri sendiri dan kehormatan diri yang egoistis.

Kini, hal ini mesti dicermati dalam berbagai persekutuan di gereja maupun di masyarakat, seperti: himpunan, persatuan, perserikatan dan yang lain, agar selalu waspada dengan ambisi, yang bisa melahirkan pertengkaran dan perpecahan. Semua kita butuh kebersamaan, yakni kebersamaan yang saling membangun di dalam Tuhan.

Untuk menjelaskan kebersamaan itu, Paulus menggunakan gambaran tubuh, yang mempunyai banyak fungsi yang berbeda, tetapi saling menyokong dan menopang. Dalam kebersamaan, ada satu hal yang harus dipelihara dan diperjuangkan bersama, yakni: Ketaatan yang sejati di dalam Kristus. Kristus menunjukkan ketaatan itu dengan mengambil rupa seorang hamba: sebagai titik paling rendah dari lapisan struktur masyarakat yang ada.

Gerak menurun ini ditempuh Yesus sedalam-dalamnya, agar dapat mengangkat mereka yang paling rendah sekalipun. Inilah dasar yang sejati dalam membangun persekutuan. Inilah yang disebut Paulus sebagai kenosis yakni: pengosongan diri, tanpa ada kepentingan politis, sosial dan ekonomis, tetapi murni sebagai sikap keteladanan. Inilah nyanyian Kristus, bahwa Dia yang kaya telah menjadi miskin, agar kita yang miskin menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.

Bila kita ingin melakukan usaha secara bersama-sama, misalnya bergotong-royong, maka tentu saja rasa marah akan timbul, bila hanya kita sendiri yang bekerja, sementara orang lain hanya tinggal duduk atau menjadi mandor. Tentu, tidak ada orang yang hanya bisa hidup sendiri. Sadar atau tidak, kita selalu membutuhkan orang lain, dan sebaliknya orang lain juga membutuhkan kita.

Kebersamaan adalah masalah yang sangat penting sebagai pewujudan dari iman kita. Yesus telah merumuskan kasih akan Allah dan kasih kepada sesama manusia sebagai kesimpulan Hukum Taurat.

Hal itu berarti bahwa persekutuan yang baik dengan Tuhan, bukanlah harus dengan mengasingkan diri atau dengan mengabaikan orang lain. Malah sebaliknya, bobot kepercayaan seseorang kepada Allah bisa diukur dari seberapa dalam kualitas sikap kita terhadap orang lain.

Kristuslah titik-temu kemanusiaan, sehingga kita dapat bersekutu, dan di dalam Dia dan dengan perantaraanNya, maka tercapailah persekutuan kita yang sejati. Dia telah merendahkan diri dan menjadi manusia (Yun. “morfe”: benar-benar berubah menjadi manusia) dalam rangka memanusiakan manusia yang sudah berada dalam lembah dosa dan kehilangan kemulian Tuhan.

Selamat meraih persekutuan yang sejati pada Minggu Palmarum ini. Persekutuan yang demikianlah yang sungguh-sungguh meninggikan nama Kristus. Persekutuan yang sejati hanya dapat kita gapai dengan menghidupi secara utuh derita Kristus serta kemenanganNya bagi kita. Amen !

Pdt. Banner Siburian

Penulis

Pdt. Banner Siburian

Artikel Lainnya