(061) 4511325 [email protected] Jl. Jend. Sudirman No. 17A, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212

Renungan & Khotbah

Minggu, 10 Mei 2026 - TETAP BERDOA

10 May 2026 00:17 👁 448 views
Bagikan:
WhatsApp Facebook Gmail X
Minggu, 10 Mei 2026 - TETAP BERDOA

Renungan Minggu Rogate, 10 Mei 2026:    
TETAP BERDOA
(Ev. Kolosse 1:9-14)   
 

Selamat Minggu bagi kita semua. Semoga minggu ini menjadi minggu sukacita yang membahagiakan bagi kita. Kiranya dalam Minggu Rogate (Minggu berdoa) ini, kita tetap setia hidup dalam doa, terutama doa-doa kitapun didengarkan oleh Tuhan. 

Doa sesungguhnya adalah nafas hidup orang percaya. Doa adalah urat nadi hidup orang percaya. Dalam doa, selain kita menjadi terhubung dengan Tuhan, kita juga terhubung dengan sesama kita manusia. Doa tidak hanya memperhatikan yang penting untuk kepentingan individu, tetapi juga untuk kepentingan orang lain.
 
Demikianlah halnya dengan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kolosse. Meski bukan Paulus yang mendirikan jemaat ini, namun dia mengutus pelayan ke sana. Dia menganggap hal itu sebagai tanggungjawabnya. Apalagi jemaat Efesus yang tergolong jemaat muda, Paulus mendoakan agar mereka tetap memiliki pengetahuan yang benar tentang kehendak Allah, cakap dalam menghadapi para pengajar sesat dan berperilaku hidup suci di hadapan Allah.
 
Tak henti-hentinya Paulus mendoakan jemaat Kolosse, siang dan malam. Begitu indahnya bila para pelayan saling mendoakan dengan jemaat (bnd. Luther didoakan saat dikejar-kejar). Sepintar-pintarnya seorang pelayan, bila jemaat tidak mendoakannya, pelayanannya acap tak berbuah; namun bila pelayanannya kurang sempurna, namun jemaat mendoakannya, pelayanan itu amat berdampak (pat. Justin Sihombing; ay 9-10).
 
Lewat Epafras, Paulus telah mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di Kolosse. Sebagai seorang informan yang baik dan akurat, Epafras sangat objektif dalam menyampaikan informasi. Dia menyampaikan adanya pertumbuhan ajaran yang sesat di situ, seperti Gnostik mistisisme, yang mengajarkan bahwa Yesus yang tersalib, hanyalah seseorang yang mirip sekali wajahnya, namun berubah dalam sekejab mata. 
 
Mereka juga mengajarkan bahwa Yesus itu adalah ciptaan. Padahal segala sesuatu justru diciptakan di dalam Kristus. Dia Adalah awal dari segalanya sekaligus sebagai gambar (“suman”: Yun. ‘Eikon’) Allah yang sulung dan lebih utama dari segala yang dicipta. Mereka pun mengajarkan tak mungkin ciptaan itu disembah. Kata ‘Eikon’ menunjukkan kemahakuasaan Yesus, yang sempurna.  Tidak ada sedikitpun alasan meragukan ke-Tuhan-an Yesus.  Dia sudah ada bahkan sejak sebelum dunia dijadikan.
 
Minggu Rogate (Latin: “Rogare”) artinya: Meminta atau berdoa. Dalam liturgi gereja kita, Minggu Rogate ditempatkan setelah Minggu Kantate (“Bernyanyi”) dengan Minggu sebelum kenaikan Yesus Kristus. Minggu Rogate ada di antara Minggu Kantate dengan Minggu Kenaikan. Minggu Rogate diarahkan untuk sungguh-sungguh mendengar pesa-pesan akhir Yesus sebelum Dia naik ke sorga.
 
Doa menjadikan kita tetap terhubung kepada Tuhan. Karena itu, tetaplah bertekun di dalam doa (Rom 12:12; Kolosse 4:2; 1 Tes 5:17). Olehnya kita memiliki hikmat dan pengertian dalam segenap lika-liku kehidupan ini (ayat 9), hikmat untuk mengenal kehendak Allah dan melawan kehendak iblis.  
 
Demikianlah hidup kita menjadi layak dan berkenan di hadapanNya, sekaligus dapat memberi buah dalam segala pekerjaan baik serta bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (ayat 10). Hikmat dari Tuhan juga akan menguatkan kita untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ayat 11), hidup penuh syukur dan sukacita serta melayakkan kita mendapat bagian dalam Kerajaan terang (ayat 12).
           
Banyak orang Kristen menghayati dan menggambarkan doa itu sebagai alat (“tools”), yang dipakai bila perlu dan tidak dipakai lagi bila mana tidak lagi diperlukan. Katakanlah sebuah obeng diperlukan untuk mengunci baut. Kalau murnya sudah ketat, obeng tersebut sudah dapat disimpan. Doa dianggap sekedar alat untuk beroleh berkat. Semakin panjang doanya, maka dirasa semakin banyaklah berkat yang diperoleh.

Persepsi itu memang tidaklah mutlak salah. Yesus berkata: “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matus 7:7). Namun, memaknai doa sebagai sekedar alat untuk beroleh sesuatu, tentu bisa menjadi sangat berbahaya. Mengapa? Sederhananya, jika ada alat lain yang lebih segera mersepons doa itu, maka orang akan meninggalkan doa, bukan ?

Selain nafas hidup, doa juga adalah aktualisasi diri seutuhnya di hadapan Tuhan; bukan sekedar ramuan kata-kata mutiara beraroma mantra guna memohon daftar keinginan untuk diri sendiri. Doa adalah segenap keberadaan atau eksistensi diri kita secara relasional dengan Tuhan sebagai Subjek yang harus didengar. Kita mendengar suara Tuhan guna membentuk hidup kita sesuai rencanaNya. Totalitas hidup kita benar-benar tertuju hanya kepada Tuhan saja, kepada suaraNya dan kepada kehendakNya.

Allah merancang sesuatu yang terbaik bagi kita sesuai kehendak dan rencanaNya atas kita; bukan jalan yang kita pikirkan untuk diri kita. Baik menurut kita, belum tentu baik di mata Tuhan. Penglihatan kita tentu sangat terbatas. Dalam doa, penyerahan diri secara total kepada Tuhan mutlak dikedepankan. Dalam pelbagai pergumulan hidup, marilah berserah pada Tuhan: “Bukan kehendakku, tetapi kehendakMu jadilah”.

Tetaplah berdoa ! Kerjakan apa yang engkau doakan, doakan apa yang engkau kerjakan. Doakan apa yang engkau percayai, percayai apa yang engkau doakan (“Orare et laborare, laborare et Orare”). Semoga Tuhan mengabulkan doa-doa kita sesuai dengan rencana dan rancanganNya yang terbaik bagi kita.
 
Selamat berdoa. Selamat memaknai hidup dengan tetap berdoa. Tuhan memberkati saudara, memberkati kami dan memberkati kita semua. Amin !

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Penulis

Pdt. Banner Siburian, M.Th

Artikel Lainnya