Jumat, 22 Mei 2022 - MENJAGA HATI
Pdt. Eva Marlina Sinaga, S.Th
Renungan & Khotbah
Renungan Minggu Kantate, 3 Mei 2026: BERNYANYILAH BAGI TUHAN!
(Keluaran 15:1-14)
Saudaraku yang terkasih ! Bernyanyi merupakan ekspressi jiwa sebagai buah penghayatan akan hidup bersama Tuhan. Semua yang hidup bernyanyi memuliakan keagungan Tuhan. Mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan serta pepohonan, air yang gemerincing dan segala makluk yang bernafas. Maha besar Allah dengan segala nikmat dan keindahan ciptaanNya.
Namun tak dapat disangkal, banyak orang yang bernyanyi dengan motivasi yang beragam. Ada yang bernyanyi guna membesarkan dan mengutkan hati sesama. Namun, tidak sedikit juga orang bernyanyi untuk alasan mencari nafkah, menunjukkan suara yang indah untuk disanjung, bernyanyi untuk menghibur diri sendiri atau bahkan bernyanyi untuk parade penampilan.
Namun banyak juga yang bernyanyi karena memang sungguh-sungguh memuji Tuhan, untuk merespons dan mensyukuri berkat yang diterima, atau bernyanyi untuk memohon pengampunan dosa dan memberitakan keagungan kuasa Tuhan. Ada pula yang bernyanyi karena Tuhan sebagai sumber pertolongan, keselamatan dan solusi terhadap berbagai problematika kehidupannya.
Kitab Keluaran berisi rangkaian peristiwa keluarnya umat Israel dari perbudakan Mesir, dengan pahit-getirnya hidup mereka hingga Tuhan melepaskan dan membebaskan mereka. Allah telah melihat penderitaan dan penindasan mereka. Allah telah mendengar seruan dan teriakan mereka. Juga peristiwa kegetiran hidup di padang gurun hingga memasuki tanah Kanaan.
Dengan berjalan kaki, mereka berangkat dari Raamses ke Sukot, sejumlah 600.000 orang laki-laki. Belum lagi perempuan, anak-anak, pembantu, kambing domba dan lembu sapi (Keluaran 12:37). Sangat mungkin jumlah mereka berjalan lebih dari satu juta orang. Bayangkan ! Bagaimana kira-kira barisan sepanjang itu. Lalu, di ujung jalan, gelombang laut menghentikan langkah mereka.
Mulut mereka tersentak menganga. Jalan mereka buntu tak tahu melangkah ke mana. Di depan, mereka dihambat oleh amukan arus dan gelora laut yang siap menelan. Ke belakang terancam bahaya dan binasa, sebab bala tentara Firaun mengejar hendak membunuh atau memperbudak mereka kembali. Melompat ke laut di depan, pastilah akan mati tenggelam. Maju mundur kena. Mereka terjepit berdiri kaku dan mematung, menanti ajal dan maut.
Saat mereka apatis, di situ nyata kebesaran dan Kasih Tuhan yang tak terukur dan tak terduga. Dengan tangan yang kuat, Allah membentuk dinding laut hingga mereka dapat berjalan di tanah kering. Di tengah derasnya arus dan gelora laut, di situ Allah men-“design” jalan tol bagi umatNya. Sehebat-hebatnya ancaman kehidupan, yang tidak logis dan buntu manurut manusia, di situ Allah berkuasa membuka dan memberi jalan keluar bagi setiap orang percaya.
Motif bernyanyi dalam teks ini terutama adalah peristiwa penyelamatan Israel menyeberangi Laut Teberau. Mereka menyaksikan kebesaran Tuhan yang telah menyelamatkan mereka, setelah diperbudak selama 430 tahun di Mesir. Tuhan menunjukkan kuasa dan kebesaran kasihNya dengan membentuk jalan tol di dasar laut. Luar biasa, bukan ? Keselamatan dan fakta transendental ini menunjukkan kemahakuasaan Allah; bukan oleh kekuatan militeristik yang dimiliki.
Kebesaran kasih dan kuasa Tuhan, itulah dasar Nyanyian Musa dan Israel. TUHAN yang tinggi luhur itu, melemparkan pasukan perang berkuda firaun ke dalam laut, membuang kereta Firaun serta membenamkan pasukan perwira pilihannya ke dalam laut Teberau. TUHAN adalah kekuatan, keselamatan dan pahlawan perang (ayat 1-3). Samudera raya menutupi mereka, ke air yang dalam tenggelam seperti batu. Tangan kanan Tuhan telah menghancurkan musuh (ayat 4-6).
Dengan nafas hidungnya, TUHAN membuat air naik bertimbun-timbun berdiri tegak bagai bendungan dan air bah yang membeku di tengah-tengah laut (ayat 7-8). Saat musuh mengejar umat dan hendak menghunus pedangnya, Tuhan pun meniup taufanNya dan mengulurkan tangan kananNya, maka laut pun menutupi dan menelan mereka tenggelam dalam air (ayat 9-12). TUHAN menuntun umatNya dalam kasih setiaNya. Bangsa-bangsa pun menggigil dan gentar (ayat 13-14).
Minggu Kantate ini memanggil kita untuk menyanyikan segenap kuasa dan perbuatan Tuhan yang ajaib dalam hidup kita, termasuk dalam menghadapi eskalasi geopolitik Internasional saat ini. Nyanyian sangkakala umat Israel telah meruntuhkan tembok Yerikho (Yosua 6). Nyanyian Paulus dan Silas tengah malam telah menggoyahkan pintu penjara serta melepaskan belenggu mereka (Kisah Rasul 16). Hendaklah hidup kita menjadi gereja yang bernyanyi (“the singing church”), sebagai nyanyian baru bagi Tuhan (Mazmur 98:1), sesuai dengan kehendakNya.
Nyanyian bagi Tuhan adalah nyanyian yang bergerak dari pengakuan dan kesaksian akan keselamatan yang telah dikerjakanNya di dalam Yesus Kristus. Maka, pujian kepada Tuhan sejatinya dilantunkan dan diekspressikan dengan segenap hati untuk memuliakan Tuhan. Jangan sampai pujian kepada Tuhan digeser menjadi pujian kepada diri sendiri. Bukankah kerap terjadi seorang dirigen atau solois misalnya menjadi arogan dan sombong, atau susah dibujuk, akibat tergoda memuji diri sendiri? Tetaplah rendah hati bernyanyi di hadapan Tuhan yang maha kuasa.
Maka, amat relevan untuk kita cermati beberapa hal tentang bernyanyi di hadapan Tuhan, agar nyanyian kita tetap menjadi baru dan menjadi kantate yang hidup bagi kita dan sesama, terutama bagi Tuhan.
Pertama: Dasar teologis bernyanyi sesungguhnya bukan terletak pada deretan tangga nada ataupun solmisasi sebuah lagu, meski itu penting. Nyanyian bagi Tuhan merupakan pengakuan dan kesaksian akan kuasa Tuhan yang kita alami dan hayati. Kita menyanyikan karya transendental Allah, guna menguatkan iman kita dan memanggil orang lain agar percaya kepada Tuhan.
Kedua: Bernyanyi terutama adalah harmonisasi melodi hati dan karakter. “We praise the Lord, not only for your melodies strings, but for your melodies heart. The new song not primarily the new strings, but to make it new”. Itulah nyanyian baru yang tetap dihayati dalam segenap rentang kehidupan. Nyanyian yang tidak dihayati, tentu Allah tidak hadir dalam jiwa orang yang bernyanyi itu. Orang yang bernyanyi, menjadi pendengar serta pelaku pertama dari lagu yang dilantunkan.
Ketiga: roh dan akal budi bernyanyi menyatu secara integral. Bernyanyilah dengan logis menurut kaidah-kaidah bernyanyi; bukan seperti orang yang kurang waras, atau histeris bagai orang kesurupan. Bukan bernyanyi terlalu mendahului ataupun terlalu belakangan untuk beroleh perhatian yang sarkartis. Bernyanyilah dengan roh dan akal budi mendayu senafas memuji Tuhan. Otak dan hati sama-sama bernyanyi; tidak pula terbawa perasaan tak terkendali (1 Kor 14:14-15).
Keempat: Nyanyian menjadi bagian khotbah yang hidup guna membantu sesama lepas dari beban hidup. Nyanyian Paulus dan Silas, telah melepaskan belenggu sesama di penjara. Nyanyian kecapi Daud mengusir kegelisahan mendalam di hati Saul (1 Samuel 16). Nyanyian kita hendaknya meruntuhkan tembok-tembok atau sekat-sekat yang membuat kita jauh satu sama lain. Nyanyian bukan sekedar hiburan apalagi “entertain”, tetapi bagian liturgi dan khotbah yang akan disuarakan.
Saudaraku yang kekasih ! Bernyanyilah bagi Tuhan. Andalkanlah Dia, betapapun sulitnya dan terjalnya jalan hidupmu. Nyanyikanlah nyanyian baru bagiNya, yakni penghayatan yang sungguh akan firman Tuhan dalam keseharian hidup. Sungguh, hidupmulah nyanyianmu, dan nyanyikanlah hidupmu. Bernyanyilah bagi Tuhan melalui segenap gerak hidupmu. Amin !
Penulis
Pdt. Banner Siburian, M.Th
Pdt. Eva Marlina Sinaga, S.Th
Pdt. Augustina Simaremare, S.Th
Pdt. Mangatur J Simanungkalit, S.Th