BERSERULAH: TUHAN ADA DEKAT KITA !
(Ratapan 3:49-57)
Selamat Minggu bagi kita semua ! Sesungguhnya Tuhan itu dekat kala kita memanggilNya ! Saat kita menderita, firman ini mengedukasi kita untuk tidak tenggelam dalam derita nestapa itu, tetapi justru berseru memanggil namaNya.
Hidup orang beriman memang tidak selalu berjalan dengan mudah. Ada kalanya kita menghadapi dan mengalami kesulitan bahkan derita dalam hidup. Itu bukan berarti Allah menghendaki kita hidup susah, namun Allah sedang menempa dan membentuk hidup kita menjadi kuat bahkan tahan banting, sehingga hidup kitapun semakin kuat dan teruji di dalam Tuhan.
Saudaraku yang kekasih ! Yeremia juga tidak luput dari pengalaman pahit dan derita kehidupan. Karena itulah nabi Yeremia meratap dengan nyaring di hadapan Allah. Nabi Yeremia percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Dia berkuasa menyelesaikan semua permasalahan hidup. Tuhan adalah jawaban di balik segenap pergumulan dan derita yang kita alami. Percaya pada Tuhan bukan berarti semua jalan hidup pasti menyenangkan, tetapi Tuhan berkuasa untuk memberikan kekuatan dan jalan keluar dalam setiap jalan terjal yang kita daki.
Nabi Yeremia tengah meratap menangis dengan berurai air mata kepedihan. Umat Israel telah kehilangan harga diri, kejayaan bahkan masa depan yang suram di negeri asing menunggu kebinasaan mereka. Segenap kebanggaan hancur lebur, baik Bait Allah maupun kota Yerusalem telah menjadi puing-puing dan reruntuhan. Umat Israel pun dibuang ke Babel sebagai orang tawanan di negeri asing. Mereka meratap sedih. Hari-hari mereka berlalu dengan linangan air mata yang bercucuran.
Nabi Yeremia menyerukan umat Israel agar sungguh-sungguh mengakui kesalahan sekaligus memohon pengampunan Allah. Kitab Ratapan ini menekankan pentingnya pengakuan bersalah dan permohonan akan pengampunan Tuhan.
Kitab Ratapan juga memproklamasikan bahwa Kasih Tuhan tidak pernah
berkesudahan. Tak habis-habisnya kasih-setia dan rahmatNya,
selalu baru tiap pagi.
Ratapan nabi Yeremia ini, laksana burung yang diburu (ayat 52). Ibarat ketapel yang digunakan untuk menyasar burung. Burung yang diketapel belum tentu menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak, kecuali hanya menjadikannya sebagai sasaran tembak saja. Burung yang diburu dan disasar hanyalah sekedar mainan. Kalaupun burung itu terkapar, luka bahkan mati, itu tidak dipusingkannya.
Seperti itulah perasaan umat Allah di dalam pembuangan. Mereka diperlakukan semena-mena, sesuka hati mereka. Mereka tidak peduli apakah apakah umat itu terluka atau bahkan mati tersiksa.
Mereka juga binasa tenggelam dalam banjir (ayat 54). Peristiwa Banjir dan Longsor di Sumatera Utara, Barat dan Banda Aceh bulan Nopember-Desember 2025 lalu, sungguh memilukan. Ribuan nyawa meninggal dan masih banyak yang hilang dan mayatnya belum ditemukan. Luapan air yang marah itu telah menelan banyak korban, menjemput ajal dan maut, akibat dosa kejahatan ekologis manusia rakus yang tak manusiawi.
Namun, kitab Ratapan memanggil kita untuk tidak takut, tetapi tetap memiliki pengharapan yang kokoh dan manis di balik semua pahit getirnya derita kehidupan ini. Jangan takut dan jangan berputus asa (ayat 55-56). Dari lobang yang dalam sekalipun, kita dapat berseru kepada Tuhan, dan kuasa Tuhan pun cukup dekat menjangkau kita. TUHAN tidak pernah menutup telingaNya bagi kita untuk mendengar teriakan kita minta tolong !
Maka sehebat dan sedalam apapun deritamu, jangan pernah frustasi dalam hidup ini. Yang terpenting, dari dasar lobang yang paling dalam sekalipun, tetaplah setia berseru dan memanggil nama Tuhan. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Selamat Minggu Invocavit: Allah memanggil nama kita dan Dia menjawab seruan kita minta tolong. Amin !




