Renungan Minggu Estomihi, 15 Pebruari 2026:
YESUS DIMULIAKAN DI ATAS GUNUNG
(Ev. Lukas 9: 28 – 36)
Selamat Minggu bagi kita saudaraku yang kekasih ! Nas ini bergema pada Minggu Estomihi, Minggu yang menyerukan bahwa Tuhan adalah Gunung batu, tempat perlindungan, kubu pertahanan dan keselamatan kita (Mazmur 31:3b).
Injil Lukas menuliskan bahwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Di depan nas ini, telah diberitakan tentang derita Yesus serta syrarat-syarat untuk mengikut Dia. Berarti kemuliaan Yesus tidak dapat dipisahkan dari deritaNya di dunia ini.
Setelah pemberitahuan tentang derita Yesus dan kesaksian Petrus, lalu dibawalah Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke gunung yang tinggi. Di gunung itu, mereka melihat wajah Yesus berubah (transfigurasi).
Umumnya, tradisi tentang gunung itu adalah Gunung Tabor, kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut. Gunung dalam Perjanjian Lama acap berkorelasi dengan tempat kehadiran Tuhan, tempat Allah memberikan berkat, tempat yang akrab antara manusia dengan Tuhan. Kini, gunung memang acap runtuh bahkan membawa bencana kepada manusia. Sangat mungkin itu terjadi, karena relasi manusia sudah menjadi kurang akrab dengan Tuhan (teologi ekologi).
Para murid melihat wajah Yesus berubah (Batak: ” Mimbar”; “transformed”), sebagai sebuah fenomena transfiguratif. Wajahnya memutih, bersinar bagai matahari, pakaiannya putih bersinar seperti terang (bnd. Matius 17:2).
Wajah Elia dan Musa, dapat dimaknai sebagai karunia rupa eskatologis di zaman baru. Mereka melihat Elia dan Musa tengah berbicara dengan Yesus. Elia dan Musa kelihatan terang bercahaya bukanlah dari dirinya sendiri, tetapi dari Yesus sendiri. Peristiwa ini juga dimaknai menghungjuk kepada kebangkitan, Yesus sebagai kepenuhan hukum Taurat serta penggenapan segala nubuatan.
Transfigurasi itu juga dimaknai bahwa Kristuslah pusat segala sejarah hidup manusia dan dunia ini. Dia kekal, Alfa dan Omega. Musa menjadi representasi hamba Allah yang menerima hukum Taurat yang dipenuhi dalam diri Yesus. Elia yang naik ke surga, kini berhadapan dengan Yesus, Diaah jalan kepada kehidupan yang kekal, dan Dialah kehidupan itu sendiri.
Melihat itu, Petrus menawarkan untuk membangun kemah di situ, satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Inilah karakter manusia, yang hendak menarik langkah mundur. Yesus sudah dimuliakan di gunung, sementara murid menginginkan mereka kembali ke belakang, kemah duniawi. Seebagai murid yang setia, sejatinya mereka harus “go to next level”. Sebagai “tim advance”, mereka seharusnya bukan malah menarik Langkah mundur, tetapi Langkah maju.
Sementara ia berkata demikian, datangkah awan menaungi mereka. Lalu terdengarlah suara dalam awan itu: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia”. Awan dan suara itu menjadi “reminder” bahwa membicaraka tempat kemah tidaklah tepat, tetapi momentum itu harus dipakai guna mendengarkan suara Allah. Suara itu menjadi proklamasi ulang dari Tuhan, sama seperti Ketika Yesus dibabtiskan di Sungai Yordan. Transfirgurasi itu dimaksudkan bukan untuk mencari kepentingan manusia, tetapi karya keselamatan Allah sendiri.
Saat itu, mereka tidak lagi melihat Musa dan Elia, kecuali Yesus. Itu artinya, para murid diarahkan agar tidak memberi perhatian yang berlebihan bahkan tidak berguna terhadap sosok Musa dan Elia, tetapi kepada Yesus sendiri. Jangan sampai wajah Yesus tersembunyi oleh kemuliaan manusia di dunia ini. Kristuslah Tuhan orang yang hidup dan mati. Kristuslah adalah kepenuhan hukum Taurat sekaligus jalan kehidupan dan keselamatan itu sendiri.
Yesus mengatakan agar para murid tidak menceritakan apa yang mereka lihat. Jangan sampai salah cerita, orang menjadi tersesat. Tuhan mengharapkan para murid tidak lancang terhadap sesuatu yang belum utuh mereka pahami. Agar mereka tidak seperti “monis” atau “sijubajabi”, satu kata yang didengar, tapi ceritanya sudah berbusabusa. Tak semua yang dilihat itu langsung diceritakan. Tak semua yang didengar langsung diberitakan.
Hidup memuliakan Tuhan, juga dapat dilakukan dengan menjauhi cerita yang belum dimengerti. Mulut kita saja memiliki pagar melalui gigi. Dalam satu tulisan tiktok, kita diingatkan agar tidak menjadi orang yang panjang lidah atau mulut. Dikatakan begini: “Hati-hati memilih teman bercerita. Jangan sampai kau cerita ubi, sampai ke orang lain sudah jadi kolak”.
Tuhan berkuasa mengubah dan mentransformasi hidup kita dari manusia jasmaniah menjadi manusia batiniah dan rohaniah. Yang terpenting, kita mau memberi diri dibentuk dan dibaharui Tuhan, sehingga wajah dan hidup kita pun bersinar, diubah dan dibaharui. Hidup kita bersinar lewat kesetiaan dan perbuatan baik kita. Kita tidak pernah dapat bersinar dari diri sendiri, selain daripada terang Yesus sendiri. Wajah yang berubah menjadi bagian dari wajah eskatologis kita di dunia ini dengan setia mendengar dan melakukan firmanNya.
Meski kemah duniawi penting bagi kita, namun dalam pespektif kebangkitan Kristus, “kemah duniawi tidak lagi dibutuhkan”. Kemah duniawi bukanlah yang terpenting bagi kita, namun kemah sorgawi yang disediakan Allah. Jangan sampai yang terpenting hilang karena hal-hal yang penting. Kebangkitan Kristus tidak terikat kepada kemah duniawi. Jangan habiskan waktu memikirkan kemah duniawi, tetapi memuiakan Tuhan lewat perbuatan baik dan kinerja kita jauh lebih penting. Amin !



