AGAR KITA MENJADI BERKAT
(Kejadian 12: 1-5)
Saudaraku yang kekasih dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kita ! Selamat minggu bagi kita semua. Minggu ini disebut minggu Sexagesima, artinya 60 hari sebelum hari kebangkitan Yesus. Minggu ini mengingatkan bahwa kita sungguh-sungguh telah diberkati Tuhan, sehingga kitapun dipanggil untuk menjadi berkat.
Apakah saudara mau menjadi berkat ? Kiatnya terletak pada kerelaan dipanggil Allah melakukan kehendakNya sekaligus keluar dari hal-hal yang mengikat kita dalam dunia ini. Dahulukan kehendak Allah ketimbang kehendak kita, serta keberanian mendahulukan rencana Allah ketimbang rencana kita.
Abram dipanggil saat dia berumur 75 tahun. Amat tidak logis, dia dipanggil keluar dengan umur seujur itu. Amat mustahil ditinjau dari sudut pemikiran dan perspektif manusia. Dia dipanggil keluar dari negerinya kepada negeri yang dia sama sekali belum tahu. Padahal, daerah demi daerah kala itu sangat rentan bertengkar satu sama lain. Terlalu banyak kesulitan yang mesti ditempuh.
Dia dipanggil dari keterkungkungan ke tempat di mana dia bisa hidup dalam Firman Allah. Tiga tempat dan keberadaan yang harus dia tinggalkan di mana dia dibentuk selama ini. Dari manakah Abram dipanggil untuk keluar ?
Pertama: dia dipanggil keluar dari negeri di mana dia tinggal, dari wilayah yang lebih luas, yang membentuk pribadinya selama ini. Di sinilah pengenalannya akan dunia, di mana dewa-dewa disembah, termasuk oleh ayahnya Terah (Yosua 24:2), dan Nimrod yang jahat (Kej 11). Dia keluar dari Ur Kasdim (Kini Irak, yang berbatasan dengan Kuwait), lalu ke Haran (kini sebagai Syria atau Turki).
Tuhan berjanji, dia akan menjadi bangsa yang besar, namanya masyhur serta membuat dia menjadi berkat, meskipun bahkan hingga umur ke-85 tahun, dia juga belum beroleh keturunan. Namun, Allah bukan Allah PHP: Pemberi Harapan Palsu. Allah sungguh tidak pernah ingkar dan lupa janji.
Kedua: dia dipanggil keluar dari sanak saudara (Huta hatubuan). Di sini dia mengenal tutur, kerabat, Handai tolan, Ompung, Bapatua, Uda, Namboru, Tulang. Disinilah pusoknya, secara geografis. Termasuk adat budaya yang membentuk dan mengikat. “Arga do bona ni pinasa, alai ummargaan dope bona ni hatuaonta. Banuaginjang do bonapasogit iman” bagi kita.
Abram setia menunggu waktu Tuhan memberkatinya sesuai dengan janjiNya. Janji Allah dibaharui kembali saat dia berumur 99 tahun. Nama Abram pun dibaharui menjadi Abraham, isterinya Sarai menjadi Sara (Kej 17:5, 15). Sara mengandung pada umur 100 tahun. Abraham melihat bintang ke atas, agar dia jangan hanya melihat apa yang ada di bumi. Dia melihat bahwa dalam kegelapan ada bintang terang.
Kita dapat melihat Abraham menjadi berkat dalam beberapa hal.
Pertama: Pemanggilan Allah kepada Abraham adalah anugrah; bukan karena kebaikannya. Dia adalah seorang politeistis, penyembah ilah. “Menjadi berkat” di sini terutama bukan soal apa yang kita beri, melainkan apa yang kita terima. Maka janganlah melihat diri dan kemampuanmu, atau putus-asa atau menjadi sombong.
Kedua: Abraham memiliki iman yang mendalam dan teguh. Karena imanlah dia mau dan mampu melepas apa yang berharga baginya. Berkat yang diterima Abraham, bukan terutama soal “materi”. Malah, dia sebetulnya kehilangan materi. Kesediaannya memenuhi panggilan Allah, justru membuatnya kehilangan harta warisan orangtuanya, tetapi setelah itu, beroleh harta yang jauh lebih kualitatif.
Ketiga: Abraham melangkah memenuhi perintah Allah dengan kekuatan Tuhan. Perjalanannya berat, namun kuasa dan kekuatan Allah jauh lebih dahsyat dari apa yang harus ia tanggung. Perjalanan hidup kita mungkin saja berat, namun kuasa Allah jauh lebih dahsyat dari apa yang harus kita tanggung. Mengapa ? Karena ada kepastian pengharapan akan janji Allah. Maka, meski perjalanan hidupmu acap berat, tetaplah melangkah dengan tekun.
Abraham dipanggil keluar untuk menjadi berkat bagi pluralitas dunia saat itu. Dia hidup rukun di mana dia berada. Kerukunan harus diperkokoh, tanpa harus menghapus perbedaan agama, budaya, keyakinan politik dan lain-lain. Konsili Vatikan II merumuskan: “Dalam hal-hal yang mutlak ada kesatuan; dalam hal-hal yang berbeda ada kebebasan; dan dalam segala sesuatu ada kasih”. Yesus memberi perintah untuk saling mengasihi seperti diri sendiri. Di sini tidak dikatakan: “kasihilah sesamamu seiman”, atau “sesamamu seagama” (Matius 22:37-39).
Selamat menjadi berkat. Tuhan memberkati. Amin !




