HIDUP BERBAHAGIA DI DALAM YESUS
(Matius 5:1-12; Minggu, 1 Pebruari 2026)
Kebahagiaan adalah salah satu tujuan hidup manusia. Apapun akan dilakukan seseorang demi meraih kebahagiaan. Apakah itu kebahagiaan dengan memiliki harta, memiliki jabatan, keturunan dan lain-lain. Ada juga yang meraih kebahagiaan dengan cara menerima dan menunjukkan kasih. Seperti dalam sebuah lirik nyanyian yang menyebutkan: “Hamoraon, hagabeon, hasangapon i do dilului na deba……, alai ianggo ahu tung holong ni roham do na hupangido….”.
Bila ditelisik lebih jauh, kebahagiaan itu terdiri dari kebutuhan fisik, bila hidup seseorang misalnya dilengkapi dengan hal-hal yang sifatnya material, uang dan harta. Kedua menyangkut keluarga yang rukun dan damai bahkan berdasarkan jumlah anggota keluarga secara kuantitas. Dan ketiga memaksudkan kebahagiaan oleh karena penghormatan dan penghargaan dari orang lain. Tentu saja, ketiganya saling berkaitan satu sama lain.
Namun, satu hal yang melebihi ke tiga hal tersebut adalah cinta kasih. Itulah kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan oleh karena kasih, jauh melampaui kekayaan, keturunan yang banyak maupun dengan jabatan dan kehormatan sekalipun.
Tidak ada yang salah dengan empat bentuk kebahagiaan di atas. Namun, Firman Tuhan memberi cara pandang teologis dalam memaknai kebahagiaan, yakni kebahagiaan karena relasi yang mesra dengan Tuhan. Inilah yang disebut dengan “Spiritual Happines”. Harta dan materi memang penting. Namun bila hal itu tidak berasal dari Tuhan, atau diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka harta sedemikan tidak akan menjadikan seseorang berbahagia. Keturunan dan keluarga memang kelihatan membahagiakan, namun bila mereka tidak hidup rukun dan saling mengasihi di dalam Tuhan, maka keluarga sedemikian malah bisa dirasakan bagaikan hidup di neraka.
Jabatan dan kehormatan sangat penting dan membahagiakan, namun bila hal itu diperoleh dengan kecurangan, maka kehormatan dan jabatan seperti itu akan menjadi senjata penghancur untuk dirinya bahkan dengan masyarakat. Cinta juga amat membahagiakan, namun bila cinta bukan didasari akan ketaatan yang sungguh kepada firman Tuhan, maka selain cinta itu dangkal, maka cinta sedemikian pun pada waktunya akan pudar bahkan bisa menjadi cinta yang memperbudak.
Kebahagiaan atau “happiness” adalah terjemahan Yunani dari kata “Makarios”, yang menghunjuk kepada sukacita yang sejati yang bersumber dari kasih Yesus Kristus. Kebahagiaan di dalam Yesus, sungguh-sungguh melampaui segala kesedihan dan kepedihan dalam hidup, penderitaan, kelemahan, kegagalan, keadaan tidak berdaya, dianggap hina maupun direndahkan atau dianggap tidak masuk hitungan manusia.
Mereka yang miskin, namun setia kepada Allah, sesungguhnya merekalah yang berbahagia, karena merekalah yang empunya Kerajaan sorga (ay 3). Sukacita dan kebahagiaan bersama Tuhan, jauh melampaui segala bentuk kemiskinan yang ada. Penghiburan bersama Tuhan, jauh melampaui dukacita yang kita alami, sehingga di tengah duka sekalipun, kita tetap dapat berbahagia dengan hidup bersama Tuhan (ay 4). Bagaimana bisa berbahagia di tengah duka, perkabungan dan kesedihan ? Karena duka, perkabungan, kesedihan, semua itu tidak berkuasa menjauhkan kita dari Tuhan; malah sebaliknya, kita berbahagia, karena bersama Yesus Kristus, kita akan diberi kekuatan melewati duka yang mendalam sekalipun.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, orang yang sabar, yang tidak gemar marah, tetapi hidup dengan rendah hati, sebab mereka akan memiliki bumi (ay 5). Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, sebab mereka akan dipuaskan (ay 6).
Orang yang murah hati akan beroleh kemurahan (ay 7). Berbahagialah mereka yang gemar memberi dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balas. Upahnya bukan lagi pemberian orang lain, melainkan kemurahan Allah. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (ay 8). Orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Allah (ay 9). Anak-anak Allah selalu membawa kesejukan, memulihkan kehidupan sesama satu sama lain; bukan memecah melainkan mempersatukan serta memulihkan relasi dengan sesama.
Berbahagialah mereka yang dianiaya oleh karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan sorga (ay 10). Kebahagiaan berdasarkan kebenaran, jauh lebih mulia dibanding dengan kebahagiaan yang dibangun di atas kecurangan. Bahkan orang dicela, dianiaya serta difitnah dengan kejahatan, bila kita tidak beranjak dari kebenaran Firman Allah, sesungguhnya itupun adalah kebahagiaan; bukan cela yang memalukan (ay 11), melainkan tersedia upah di sorga, upah yang kekal bagi mereka. Kita berbahagia, karena kecurangan yang demikian, cela dan fitnah adalah sesuatu yang temporer versus Kebenaran (Aletheia) Allah yang kekal.
Selamat meraih dan menggapai kebahagiaan bersama Yesus Kristus. Sebuah perspektif kebahagiaan menurut Yesus, yang meski tidak selalu klop dengan cara pandang manusia secara umum. Namun bila kita sungguh-sungguh melakoninya dalam hidup, maka kita akan menjalani hidup yang kita jalani ini dengan semangat juang yang lebih serta hidup lebih optimis. Semoga kebahagiaan demi kebahagiaan dari Tuhan tercurah atas hidup kita. Amin !





