BERJALAN DI JALAN TUHAN
“Lakukanlah apa yang Tuhan perintahkan, hiduplah menurut kehendak-Nya, taatilah hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan-Nya, seperti yang tertulis dalam Hukum Musa, supaya engkau berhasil dalam segala sesuatu yang engkau lakukan dan ke mana saja engkau pergi.” (1 Raja-raja 2:3)
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus! Bayangkan seorang ayah tua yang sedang berbaring di ranjangnya. Napasnya tersengal, waktunya tinggal sebentar lagi. Di sampingnya duduk sang anak yang akan menggantikannya memimpin. Ini bukan sekadar percakapan biasa—ini adalah wasiat terakhir, pesan yang paling berharga yang bisa diberikan seorang ayah kepada anaknya.
Daud, sang raja perkasa yang pernah mengalahkan raksasa Goliat, yang pernah merasakan puncak kemuliaan dan jurang kegagalan, tahu persis apa yang mau dia katakan. Bukan tentang strategi perang. Bukan tentang cara mengelola kekayaan kerajaan. Bukan pula tentang politik dan aliansi. Yang keluar dari bibirnya adalah ini: “Berjalanlah di jalan Tuhan.” Daud bicara dari pengalaman hidup bersma Tuhan. Dia tahu bagaimana rasanya sukses luar biasa ketika dia berjalan bersama Tuhan—mengalahkan musuh, kerajaan makmur. Tapi dia juga tahu bagaimana rasanya jatuh—ketika dia melanggar perintah Tuhan, semuanya berantakan. Keluarganya kacau, anaknya memberontak, kerajaan hampir roboh. Sekarang di penghujung hidupnya, dengan kebijaksanaan yang didapat dari ribuan hari berjalan bersama Tuhan, dia tahu: keberhasilan sejati bukan soal pintar atau kuat. Keberhasilan sejati adalah ketaatan pada Tuhan.
Saudaraku! Kita hidup di zaman yang terobsesi dengan kesuksesan. Kita dibombardir dengan rumus-rumus sukses: “Lakukan ini dan kamu akan berhasil!” Tapi Daud memberi tahu kita rahasia yang sering terlupakan: jalan menuju keberhasilan sejati dimulai dengan berjalan di jalan Tuhan. “Berjalan di jalan Tuhan” bukan berarti hidup kita tiba-tiba jadi sempurna tanpa masalah. Bukan. Ini berarti dalam setiap langkah, dalam setiap keputusan, kita bertanya: “Apa yang Tuhan mau?” Dan kemudian kita melakukannya—bahkan ketika susah, bahkan ketika tidak masuk akal secara logika manusia. Amin (JRT)


