TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA
(Hagai 2:1-9)
Selamat Minggu Epiphanias bagi kita semua ! Saudaraku yang kekasih. Bait Allah memiliki peran sentral dalam kehidupan umat Israel dahulu. Kala itu, Sion menjadi Kota Allah: Pusat Kerajaan dan Pusat Peribadahan umat Israel, di mana Allah hadir dan bersemayam.
Di situ, mereka menerima pengajaran, bersyukur, berdoa, menyerahkan kurban persembahan kepada Tuhan sekaligus menaati perintahNya. Mereka merindukan dan mencintai Bait Allah (Mazmur 26:8), sebab mereka percaya bahwa Allah hadir dan diam bersama-sama dengan umatNya.
Saking sentralnya peran Bait Allah (Synagoge), maka umat Israel tak habis pikur kala bangsa Babel meruntuhkan Bait itu. Bagaimana mungkin tempat Allah yang Maha Kudus dan maha kuasa runtuh oleh kuasa manusia, yakni raja Nebukadnesar ? Hati mereka terasa hampa dan terbuang ke Babel.
Setelah 70 Tahun di pembuangan, Tuhan memakai Raja Kores membebaskan Yehuda dari Babilonia. Mereka kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. Hagai pun meyakinkan umat agar percaya pada kasih Tuhan, yang setia menjaga, memelihara dan memberkati umatNya. Allah memelihara mereka dalam pembuangan dan memulangkan mereka kembali ke Yerusalem.
Lalu bagaimanakah respons umat atas kasih setia Tuhan itu, sekaligus renungan bagi kita kini ?
Pertama: Mari Membangun Rumah Tuhan dengan Saking bahu membahu. Hagai fokus memotivasi umat Allah menyelesaikan pembangunan Bait Allah. Dapat dibayangkan selama 70 tahun di pembuangan, kota ini kosong dan tak berpenghuni, tentu sangat membutuhkan pembangunan. Ezra dan Nehemia bahu membahu untuk mewujudkan pembangunan Bait Allah. Meski ada dukungan dana pembangunan dari raja Koresh, namun yang terutama adalah tanggungjawab umat secara bersama untuk membangunnya (Ezra 1:2).
Nabi Hagai mengajak komitmen seluruh umat untuk menyokong pembangunan itu. Di sini dibutuhkan keberanian percaya tanpa ragu akan berkat dan kasih setia Tuhan.
Menurut catatan material pembangunan Bait Allah dibangun Raja Salomo (sekitar 966-959 SM) di Gunung Moria, Yerusalem. Dibangun selama 7 tahun dengan bahan terbaik seperti emas murni, kayu aras dari Libanon, kayu sanobar dan batu-batu mahal. Bagian interior, dinding, lantai, dan ruang belakang, dilapisi emas murni serta dihiasi ukiran kerub, pohon kurma, dan bunga, menciptakan nuansa istana surgawi yang bernilai tinggi dan megah (1 Raja 5-6).
Kedua: Turut dalam arak-arakan pembangunan Bait Allah adalah kesempatan berharga (kairos) dari Tuhan untuk kita dan Tuhan akan menyertai kita. Mereka semua secara bersama harus saling menguatkan hati (Hagai 2:2-4), baik pemerintah (Bupati), Imam dan umat. TUHAN berfirman: “bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam”.
Transformasi dimulai dari kepala. Pemimpin adalah motor dan penggerak perubahan. Hal ini ditekankan oleh Hagai, makanya hal pertama yang disapa oleh Hagai adalah Bupati Yudea dan Imam kala itu. Sealtiel adalah Bupati atau kepala daerah yang memiliki otoritas untuk program pembangunan. Hagai menyapa dan menyemangati pemerintah yang bertanggung jawab untuk kemajuan dan pembangunan daerah. Pembangunan Bait Allah dan tembok Yerusalem adalah program strategis yang dapat meningkatkan harkat dan martabat Yudea.
Sedangkan Imam saat itu adalah Yosua bin Yozadak. Hagai mendorong pemimpin agama karena perannya sangat menentukan spiritualitas umat. Imam memiliki otoritas untuk memberikan kewajiban agama (religius) berupa persembahan dan kurban serta pembiayaan untuk menopang pembangunan Bait Allah.
Ketiga: Jangan takut untuk Membangun Bait Allah. Jangan Takut (Hag 2:8). Tuhan berfirman: segala sesuatu telah tersedia. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.
Secara ekonomis mereka memang belum kuat, karena baru kembali dari pembuangan. Sebagian masih membangun rumah dan membuka ladang pertanian atau usaha. Namun alasan ekonomi tidak bisa menjadi alasan untuk tidak membangun Bait Allah. Nehemia dipakai Tuhan dengan hikmat yang luar biasa, dia meminta agar raja Persia membuat surat kepada seluruh bupati untuk menopang pembangunan Bait Allah (Nehemia 2-3).
Turutlah membangun lewat topangan umat melalui persembahan dan perpuluhan. Ada kewajiban-kewajiban agama yang harus diberikan kepada pembendaharaan pembangunan Bait Allah. Tentu, sumber segala sesuatu ada pada Tuhan (ay 8).
Keempat: Tuhan memberikan engkau Damai Sejahtera (Hag 2:9).
Damai sejahrera ini terkait dengan pengalaman real dimana akan muncul negara adikuasa untuk menaklukan negara-negara sekitar, seperti Mesir, Assyur, Babelonia dan Persia. Dengan realitas inibtentu ada kekuatiran akan ancaman perang. Namun Hagai menjawab: Tuhan mendatangkan damai sejahtera. Allah adalah Maha Kuasa, Allah yang berdaulat bukan saja kepada Israel, tetapi berdaulat atas segenap raja-raja dan semesta alam.
Pastilah banyak kebutuhan, atau bahkan kekuatiran kita. Tetapi ingatlah saudaraku yang kekasih: Tuhan semesta alam berkuasa untuk mengatasinya. Dalam semua itu, Tuhan berkuasa memberi kita damai sejahtera. Damailah hati kita. Damailah keluarga kita. Damailah gereja kita, bahkan bangsa dan negara kita. Amin !





