Zakharia adalah seorang imam yang penuh Roh Kudus. Dialah ayah Yohanes Pembabtis, dengan ibunya Elisabet, perempuan dari Aron, keturunan Harun. Mereka adalah satu keluarga yang setia di hadapan Allah, walau Elisabet belum juga mengandung seorang anak. Elisabet seorang perempuan mandul. Keduanya telah lanjut umurnya (1:6-7).
Namun, malaikat datang kepadanya dan memberitahu bahwa doanya telah dikabulkan. Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki, namanya Yohanes (Luk 1:13). Namun Zakharia tidak percaya, bagaimana mungkin seorang lansia dapat melahirkan (ay 18). Karena itu, Zakharia menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari di mana semuanya ini terjadi (1:20). Anak itulah suara yang berseru-seru di padang gurun, yang mempersiapkan jalan untuk Tuhan (Mat 3:3).
Maka genaplah waktunya, Elisabet pun bersalin dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah (ayat 64). Janji Allah lewat malaikat Gabriel telah digenapi lewat kelahiran Yohanes Pembaptis. Itulah dasar sukacita dan puji-pujian Zakharia.
Melalui firman ini pada minggu Advent yang ke-4 ini, kita dipanggil dan diserukan agar senantiasa setia memuji-muji Tuhan, oleh karena:
Pertama: Tuhan telah melawat kita umatNya (ayat 67-68). Umat yang telah dijajah oleh dosa kini dilawat oleh Tuhan, sekaligus memberikan kita kelepasan dan keselamatan. Tuhan telah memenuhi janjiNya. Inilah kesaksian iman yang sejati dari Zakharia. Manusia yang dipenuhi Roh Kudus, tidak bisa berdiam diri mengatupkan mulut, namun dia tegak berdiri untuk menyaksikan segala karya dan perbuatan Tuhan dalam hidupnya.
Nyanyian pujipujian Zakharia sekaligus kesaksian terhadap Mesias yang telah datang, bukan keluar dari pikirannya sendiri, namun oleh karena karya Roh Kudus. Manusia yang bisu sekalipun, bila Roh Tuhan ada padanya, dia akan diubah menjadi orang yang lantang bersuara, bersaksi dan bernyanyi-nyanyi di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Tuhan yang mengatupkan mulut seseorang, Dialah juga yang membukanya sehingga mulutnya penuh kesaksian dan puji-pujian.
Lawatan Tuhan adalah bukti bahwa kita ada pemeliharaan Tuhan (“Providentia Dei”). Di tanganNyalah arah dan masa depan sejarah dunia ini. Tuhan memelihara hidup kita, baik perorangan, rumah-tangga, gereja dan bangsa. Semua itu terjadi, bukan karena kita layak menerimanya atau karena perbuatan baik yang kita kerjakan, tetapi semata karena anugerah kasih setia dan inisiatif Allah sendiri di dalam rancangan keselamatanNya.
Kedua: Dia telah menumbuhkan tanduk keselamatan bagi kita dari segenap musuh-musuh kita (ayat 69-75). Tanduk keselamatan itu, Dialah Mesias yang telah digenapi di dalam diri Yesus Kristus, sumber keselamatan kita dari segala bentuk perhambaan, terutama dari perhambaan dosa (pat. Jer 23:5-6). Dalam Perjanjian Lama, tanduk itu sekaligus menjadi sebuah tempat menyediakan pelita bagi seorang raja yang diurapi (Mazmur 132:17). Allah sendiri meninggikan tanduk keselamatan bagi orang-orang benar sekaligus memecahkan tanduk orang-orang jahat.
Tujuan kita dilepaskan adalah agar kita dapat beribadah kepadaNya tanpa takut, hidup dalam kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita (ayat 74-75). Hidup kudus artinya kita hidup “dikhususkan” (cut of) untuk pekerjaan Allah dalam melakukan tugas suruhan Allah guna memberitakan dan membawa keselamatan itu sendiri.
Ketiga: Kita menjadi cerminan wajah Tuhan untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan maut sehingga hidup dalam damai sejahtera (ayat 76-79). Cerminan wajah Tuhan itu dimulai dari keluarga sendiri. Seperti Zakharia, seorang bapak dan imam, dia menyambut dengan sukacita apa kehendak Allah dan tugas suruhan Allah dalam diri anaknya. Seorang yang sungguh taat kepada Allah, tidak akan pernah menghambat jalan bagi anaknya untuk menaati Tuhan.
Sebagai perintis jalan untuk Tuhan, tentu bukanlah Yohanes Pembaptis yang menjadi “pusat perhatian”, tetapi Dia yang datang di belakangnya. Kita diserukan, manakala kita dikedepankan dalam pelayanan di gereja, di masyarakat bahkan negara, jangan sampai hal itu membuat wajah Tuhan menjadi tersembunyi. Peran sebagai pembuka jalan bagi Yohanes, bukanlah guna mencari kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan lewat segenap pelayanannya.
Tuhan sudah melawat kita umatNya. Tuhan tidak pernah melakukan pembiaran bagi kita diperhamba oleh dosa. Yesus telah hadir untuk melepaskan kita dari segenap kungkungan dosa. Dialah tanduk keselamatan bagi kita, sumber dari segenap nyanyian dan puji-pujian kita. Sambutlah lawatan dan keselamatan Tuhan dengan penuh sukacita. Amin !




