Senin, 19 Oktober 2026 - Memandang Kepada Yesus
Pdt. Santy Elfrida Sitompul, S.Th
Daily Bread
“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: „Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7)
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus ! Seorang nabi besar sekelas Samuel pun sempat terkecoh. Ketika melihat Eliab yang berparas tampan dan bertubuh gagah, Samuel langsung menyimpulkan, "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri orang yang diurapi-Nya." Samuel memakai standar duniawi: pemimpin haruslah yang paling menonjol secara fisik. Tetapi Allah segera intervensi dengan sebuah kebenaran yang mendalam: "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
1. Standar Allah Mengabaikan Kemasan Luar
Allah sedang mencari seorang pemimpin, bukan seorang model. Ketika manusia sibuk mengagumi pencapaian luar, Allah justru sedang menembus masuk ke dalam ruang terdalam dari jiwa kita, tempat di mana motivasi, kejujuran, dan karakter sejati kita berada.
2. Hati yang Tersembunyi, Hati yang Terpilih
Ketika saudara-saudara Daud yang tampak meyakinkan ditolak satu per satu, Daud sendiri bahkan tidak diundang ke acara perjamuan tersebut. Daud terlupakan oleh ayahnya, tetapi tidak pernah luput dari pandangan Allah. Di tengah kesunyian padang rumput, saat tidak ada mata manusia yang melihat, Daud membangun hubungan yang erat, tulus, dan setia dengan Allah. Itulah "hati yang berkenan" yang dicari oleh Allah.
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus! Berapa banyak energi yang kita habiskan setiap hari untuk memoles penampilan luar agar dipuji manusia, dibandingkan waktu yang kita gunakan untuk memelihara kekudusan hati di hadapan Allah? Dan bagaimana kita menilai sesama? Apakah kita sering menghakimi, meremehkan, atau justru mengagumi seseorang hanya berdasarkan status materi, rupa wajah, atau titel yang mereka sandang? Ingatlah, bahwa Allah yang menyelidiki batin dan belajarlah melihat sesama dengan kacamata Allah melihat ketulusan hati dan kestiaan. Amin ! (JRT)
Penulis
Pdt. Jusuf Roy Turnip, S.Th
Pdt. Santy Elfrida Sitompul, S.Th
Administrator
Administrator