Renungan Minggu, 15 Maret 2026
HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG !
(Efesus 5:8-14)
Selamat Minggu Letare bagi kita semua ! Minggu Letare ini menyerukan agar kita semua senantiasa hidup dengan sukacita (Yesaya 66:10). Namun, bersukacita yang dimaksud di sini adalah kegembiraan hidup sebagai akibat dari pilihan kita untuk hidup dalam terang serta hidup sebagai anak-anak terang.
Saudara-saudaraku yang kekasih ! Surat Efesus ini secara umum menyerukan agar jemaat Efesus hidup sebagai anak-anak terang, hidup sebagai penurut-penurut Allah serta hidup di dalam kasih. Serentak dengan itu, jemaat diseru untuk melawan dan membuang perilaku kegelapan, seperti: perkataan yang kotor, percabulan, hidup sembrono, serakah, menyembah berhala dan lain-lain.
Mereka yang telah diselamatkan Kristus, namun gemar hidup dalam kegelapan, sesungguhnya adalah sebuah kebodohan. Dan kiat untuk melawan segala kebodohan itu adalah hidup dalam Terang (ayat 17). Lewat Terang, kita dapat bercermin untuk melihat segala kelebihan atau kekurangan kita. Kita dapat memilah mana yang baik untuk dihidupi dan mana yang jahat untuk dibuang, apakah kita orang bebal atau orang arif.
Firman Tuhan hari ini sedikitnya menyerukan tiga hal kepada kita semua, yakni:
Pertama: Lawanlah segala perbuatan kegelapan, tetapi hiduplah sebagai anak-anak Terang (ayat 8). Hanya di dalam Dialah kita dapat hidup dalam terang, sekaligus melawan perbuatan-perbuatan gelap. Janganlah pernah “bermain mata” apalagi turut mengambil bagian dalam perbuatan gelap, seperti percabulan, hidup tidak senonoh, serakah, percakapan kosong tanpa makna (bnd. ay 5-6).
Sebagai anak-anak terang, Tuhan memanggil kita untuk tidak turut mengambil bagian (“join in fellowship”) dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa. Orang yang hidup dalam kegelapan, dia sedang mengerjakan kesia-siaan. Dahulu, memang kita ada di dalam kegelapan, tetapi kini kita sudah menjadi umat Tuhan, dan berada dalam terang.
Kedua: Berbuahlah sebagai anak-anak Terang, yakni: Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran (ayat 9). Janganlah bodoh. Bila hati kita gelap, maka mencuri dan berdusta pun akan dianggap lazim. Bila hati kita gelap, maka fitnah pun misalnya akan dianggap sebagai lelucon biasa. Bila mata kita gelap, kita sulit membedakan mana gaji mana korupsi, mana isteri atau pembantu, mana suami atau supir dan lain-lain.
Sebagai anak-anak terang, kita menutup segala partisipasi yang mungkin membuka peluang untuk perbuatan gelap. Tidak ada kompromi dengan dosa. Terang tidak bisa hidup simultan dengan kegelapan. Kegelapan hanya bisa dikalahkan oleh terang. Gelap tidak pernah bisa mengusir kegelapan. Kegelapan tidak dapat mengalahkan terang, tetapi terang dapat mengalahkan kegelapan. Jangan pernah “bermain mata” dengan perbuatan gelap.
Ketiga: Telanjangilah perbuatan-perbuatan kegelapan itu (ayat 11-14). Anak-anak terang, akan menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, karena perbuatan terang tidak bisa hidup bersama-sama dengan kegelapan. Kita hanya mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan itu bila kita hidup di dalam terang.
Janganlah kita menjadi orang bodoh diperbudak oleh kegelapan. Jangan bodoh (bnd. ayat 17), dalam bahasa Yunani disebut “me gineste” (juga berarti: “do not be thoughtless”). Dalam terjemahan bebas disebut: Jangan sampai tidak punya otak ! Dalam Bahasa Batak: “Unang maoto”, yang lebih menekankan kepada tindakan tidak bijaksana atau “unwise” (Illustrasi: Operasi otak: tak punya otak pun, yang penting, nikmati dunia ini).
Saudaraku yang kekasih ! Marilah kita hidup senantiasa di dalam terang, maka jalan dan masa depan kita pun akan semakin cerah dituntun bersama dengan Tuhan, dan hidup kita pun senantiasa dipenuhi dengan sukacita yang terang benderang.
Tuhan memberkati kita semua. Amin !



