ARAHKAN HATI DAN JIWAMU UNTUK MENCARI TUHAN
(1 Tawarikh 22: 14-19)
Selamat Minggu Okuli bagi kita semuanya. Minggu Okuli, adalah rangkaian Minggu Pra-Paskah yang menyerukan agar mata kita senantiasa terarah kepada TUHAN (Mazmur 25:15a). Hanya Tuhanlah yang berkuasa melepaskan kita dari berbagai jerat dunia yang hendak memperdaya kita.
Kitab ini mengisahkan Raja Daud dengan segala kesusahan yang dialaminya hingga memenangkan berbagai peperangan terhadap bangsa di sekitarnya. Juga kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel sekitar abad ke-5 SM atau sekitar tahun 457 SM). Kitab 1 Tawarikh ini secara umum diakui sezaman dengan Ezra dan Nehemia (bnd. Ezra 1:1-13; 1 Taw 29:29; 36:22-23).
Secara khusus perikope 1 Tawarikh 22 ini mengisahkan bagaimana kerinduan dan pergulatan Daud dalam rancangan bangunan Bait Allah yang megah di Yerusalem, sebagai pusat peribadahan umat Israel. Daud telah iklas bahwa bukan dirinya yang dipilih Allah untuk membangun BaitNya, tetapi anaknya, Salomo.
Saat Israel kembali dari pembuangan, mereka mengalami berbagai kesusahan, kemiskinan dan kesulitan hidup, termasuk umat Israel yang tinggal di Yerusalem. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak turut memperhatikan Pembangunan Bait Allah, apalagi melakukan pembiaran terhadap bangunan Bait Allah.
Daud tidak diperkenankan Tuhan membangun BaitNya sebab banyaknya darah yang ia tumpahkan ke tanah serta melakukan peperangan besar (ay 8, 10). Namun, Daud ksatria merestui anaknya membangun Bait Allah (ay 11) serta memohon kiranya Tuhan memberi Salomo akal budi dan pengertian, dan kiranya hati Salomo tetap kuat dan teguh, tidak takut dan tawar hati (ay 12-13).
Meski mengalami kesusahan, namun Daud menyediakan 100.000 talenta emas, sejuta talenta perak, tembaga dan besi yang tak tertimbang beratnya, serta kayu dan batu. Daud menopang anaknya Salomo (ay 14), berikut dengan para tukang pemahat batu, tukang batu dan tukang kayu, orang-orang yang ahli dalam segala macam pekerjaan emas, perak, tembaga, besi, termasuk kayu aras dari Sidon dan dari Tirus (ay 4-5). Daud merestui Salomo mulai bekerja sekaligus memohon penyertaan Tuhan (ay 15-16). Dia tidak setengah hati membantu pembangunan itu, termasuk mengirimkan para tukang-tukang untuk membangun (ay 15)
Kepada para pembesar Israel Daud memerintahkan untuk memberi bantuan kepada Salomo (ay 17), karena Tuhan telah menyertai mereka dan mengaruniakan keamanan ke segala penjuru serta Tuhan telah menyerahkan segala penduduk takhluk kepada Daud (ay 18).
Namun yang terpenting dan terutama adalah agar Salomo mengarahkan hati dan jiwanya mencari Tuhan Allah. Itulah yang terutama dalam segala upaya mendirikan tempat Kudus Tuhan, sehingga Tabut perjanjian dan perkakas kudus Allah dapat dibawa masuk ke rumah Tuhan (ay 19). Sekedar untuk menyegarkan kembali, Tabut Perjanjian itu berisi: Dua loh batu dengan 10 hukum Taurat, buli-buli manna dan tongkat Harun (Kel 25:10-22; Ul 10:2-5).
Maka, marilah kita senantiasa hidup ber-OKULI, dengan senantiasa mengarahkan hati dan jiwa kita untuk mencari Tuhan. Apapun yang kita kerjakan dalam hidup ini, dengan segala kekuatan, kekayaan, pangkat, jabatan yang ada pada kita, hendaklah itu kita lakoni dalam rangka untuk mencari Tuhan dan menaatiNya dalam hidup ini. Demikianlah juga kita menghayati dan menghidupi pesan-pesan firman Tuhan pada minggu ini, yakni:
Pertama: Tidak semua kita dipilih Tuhan untuk membangun Bait Allah (misalnya sebagai panitia). Daud ikhlas menerima bahwa bukan dirinya yang dipilih dan ditentukan Allah untuk membangun BaitNya. Allah tidak menghendaki BaitNya dibangun lewat pertumpahan darah. Allah tidak menghendaki BaitNya dipenuhi dengan perang, tetapi damai.
Kedua: Meski bukan di tangannya, namun Daud turut merestui dan menopang pembangunan itu. Daud tidak lepas tangan atau menjadi kurang kasihnya kepada Tuhan. Dia tetap berpartisipasi memberi bantuan kepada Salomo, termasuk bantuan logistik, seperti: tukang-tukang pemahat batu, besi untuk paku-paku daun pintu gerbang, tembaga, kayu aras. Termasuk menyediakan 100.000 talenta emas, sejuta talenta perak, kayu dan batu.
Ketiga: Tuhan menjauhkan kesusahan, kemiskinan dan kesulitan hidup dari kita. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak turut memperhatikan Pembangunan Bait Allah, atau bahkan melakukan pembiaran terhadap bangunan Bait Allah itu. Dia tidak setengah hati membantu pembangunan itu. Sebagai orangtua, Daud menopang anaknya dalam pekerjaan itu. Topangan Daud dinyatakan dengan berdoa memohon pernyertaan Tuhan untuk Salomo.
Keempat: Kepada para pembesar Israel, Daud memerintahkan untuk turut memberi bantuan kepada Salomo (ay 17). Pemerintah atau Negara atau jaringan lainnya, terpanggil untuk turut membangun Bait Allah. Pemerintah turut membantu dan memfasilitsi rasa aman segenap warganya.
Kelima: Program apapun yang kita kerjakan, proyek apapun yang tengah kita garap, yang terpenting dan terutama di atas segalanya itu adalah agar kita senantiasa mengarahkan hati dan jiwanya untuk mencari Tuhan Allah. Tujuan akhir dari semua Pembangunan yang ada, terutama pebangunan Bait Allah adalah perjumpaan dan hidup yang mesra dengan Tuhan. Amin !



