“Kecongkakan hatimu telah memperdayakan engkau, hai penduduk yang tinggal di liang-liang batu, yang tempat kediamannya tinggi; yang berkata dalam hatinya: Siapakah yang dapat menurunkan aku ke bumi?”
Obaja 1:3
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, Tuhan kita! Salam dan doa kami dari HKBP Medan Sudirman. Semoga hidup kita senantiasa dinaungi oleh kasih setia Tuhan.
Kesombongan sering muncul secara halus dalam kehidupan kita. Ketika memiliki jabatan, pendidikan tinggi, kekayaan, atau keberhasilan, kita dapat mulai merasa mampu berdiri sendiri tanpa pertolongan Tuhan. Tanpa sadar, hati berkata, “Aku kuat, aku bisa, aku tidak membutuhkan siapa pun.” Firman Tuhan mengingatkan bahwa kecongkakan hati justru menipu dan menjauhkan kita dari Tuhan.
Di zaman sekarang, kesombongan dapat muncul melalui pencapaian karier, popularitas di media sosial, atau keberhasilan finansial. Dunia mendorong kita untuk terlihat hebat dan diakui. Namun keberhasilan tanpa kerendahan hati akan menjauhkan kita dari kasih dan hikmat Tuhan. Tuhan tidak menentang keberhasilan, tetapi Ia menentang kesombongan hati.
Bayangkan sebuah balon yang terus diisi udara. Semakin besar ia terlihat, namun semakin tipis dindingnya. Satu tusukan kecil saja cukup untuk meledakkannya. Demikianlah kesombongan: tampak besar, tetapi rapuh.
Renungan ini mengajak kita untuk tetap rendah hati, mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kerendahan hati membuka hati kita untuk belajar, mengasihi, dan bergantung pada Tuhan.
Garis besar renungan:
-
Kesombongan hati menipu dan menjauhkan dari Tuhan.
-
Keberhasilan dapat menjadi pintu kesombongan jika tanpa kerendahan hati.
-
Tuhan menghendaki hati yang rendah dan bersandar kepada-Nya.
-
Kerendahan hati menjaga kita tetap dekat dengan Tuhan.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup dalam kerendahan hati, sehingga hidup kita dipenuhi kasih dan penyertaan-Nya. Amin.


