Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1: 21).
Saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Salam dan doa kami dari HKBP Medan Sudirman. Semoga hidup kita dinaungi oleh kasih Tuhan. Ayub adalah hamba Allah yang saleh, jujur, punya harta kekayaan termasuk ternak yang banyak. Cerita Ayub terjadi pada masa sebelum pembuangan, yaitu di tanah Us yaitu daerah sebelah timur dari Libanon bagian Selatan. Ayub mempunyai keluarga dan anak, memiliki empat sahabat yaitu Elifas, Bildad, Zofar dan Elihu. Segalanya menimpa Ayub melenyapkan piaraannya dan ham sesuatu yang terjadi di ba-hambanya dan yang paling mengerikan dari segalanya adalah lenyapnya anggota keluarga.
Dari penderitaan Ayub kita dapat mempelajari bahwa setiap penderitaan harus kita jalani dengan kerendahan hati dan tidak berputus asa. Ayub sepenuhnya percaya kepada Allah, artinya kelangsungan hidupnya diserahkan kepada Allah di dalam kerendahan dan pengharapan, tidak kepada manusia. Tuhan tidak menjawab dan menerangkan sesuatu apapun tentang penderitaan Ayub, namun Tuhan membuat Ayub menjadi pemenang. Kerendahan dan penyerahan diri Ayub kepada Allah mendapat cobaan berat, namun Tuhan membuat Ayub menjadi pemenang dalam pertempuran iman tersebut.
Saudaraku terkasih …. Melalui nas ini, kita mendapat pengajaran bahwa sikap kerendahan hati dihadapan Tuhan akan memberikan kekuatan dan kemenangan. Ayub adalah contoh bagi kita, dimana dalam hidupnya yang paling kelam ia masih dapat memuji Allah, dengan mengatakan “Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku” Hal ini juga dapat kita lihat di 1 Timoteus 6: 7 “Bahwa kita tidak membawa sesuatu apapun bersama kita ke dalam dunia ini, demikianlah kita tidak dapat membawa apapun bersama kita bila kita meninggalkan dunia ini. Berserahlah hanya kepada Tuhan dan tetap dalam kerendahan hati. Tuhan tidak pernah diam dan membiarkan orang yang dikasihiNya. Amin (TS)


